Ekonomi . 17/07/2025, 08:38 WIB

Dampak Tarif Impor Trump Turun 19 Persen untuk Perekonomian Indonesia

Penulis : Khanif Lutfi  |  Editor : Khanif Lutfi

fin.co.id - Dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu, Pemerintah Indonesia telah sukses mengejutkan masyarakat dengan disetujuinya usulan mengenai penurunan besaran tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) menjadi 19 persen.

Kendati begitu, hal tersebut turut menuai kekhawatiran masyarakat. Pasalnya, penurunan tersebut juga dibarengi dengan syarat atau ultimatum kepada Indonesia untuk membeli produk-produk AS dalam jumlah sangat besar, yaitu USD 15 miliar energi, USD 4,5 miliar produk pertanian, dan 50 pesawat Boeing seri 777. 

Sontak, hal ini langsung menuai kritik serta kekhawatiran dari berbagai pihak. Pasalnya, kesepakatan ini justru membuat Indonesia membeli lebih banyak dari AS hanya demi tarif yang masih tetap tinggi. 

“Dalam teori perdagangan internasional, tarif digunakan untuk melindungi kepentingan nasional dan memperkuat posisi tawar domestik. Padahal barang-barang AS masuk ke pasar Indonesia bebas tarif dan bebas hambatan non-tarif,” papar Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, ketika dihubungi oleh Disway, pada Rabu 16 Juli 2025.

Lebih lanjut, Achmad juga menambahkan bahwa dengan skema ini, AS juga justru mendapat keuntungan ganda: menurunkan defisit perdagangannya dengan menjual lebih banyak ke Indonesia dan tetap memungut tarif impor 19 persen dari produk Indonesia.

“Seharusnya, negosiasi perdagangan yang adil adalah nol persen versus nol persen: barang kita bebas masuk pasar mereka, barang mereka bebas masuk pasar kita, sambil menjaga keseimbangan neraca dagang lewat diversifikasi dan peningkatan nilai tambah domestik,” tegas Achmad.

Dampak Negatif ke Ekonomi

Di sisi lain, Achmad juga turut menyoroti dampak negatif yang ditimbulkan oleh kesepakatan ini kepada perekonomian Indonesia.

Dampak pertama adalah, impor dalam jumlah masif dari AS akan meningkatkan tekanan pada neraca pembayaran dan neraca perdagangan Indonesia.

Dalam hal ini, pembelian energi USD 15 miliar akan menambah beban devisa. Pembelian produk pertanian USD 4,5 miliar berpotensi menekan sektor pertanian domestik, dari jagung hingga kedelai, karena kalah bersaing harga dan volume. 

“Sementara, pembelian 50 Boeing berarti tambahan utang maskapai nasional, atau menekan cashflow BUMN penerbangan yang selama ini terus disubsidi negara,” jelas Achmad.

Yang kedua adalah ancaman terhadap lapangan kerja. Menurut Achmad, tarif 19 persen akan menurunkan daya saing ekspor manufaktur Indonesia ke AS. Sektor padat karya seperti tekstil, sepatu, dan elektronik berisiko mengurangi produksi, bahkan melakukan PHK jika order AS berkurang akibat harga jual naik di pasar mereka.

Dan yang ketiga, inflasi dan ketahanan pangan. Jika neraca pembayaran melemah akibat lonjakan impor dan lemahnya ekspor, rupiah berpotensi tertekan.

“Pelemahan rupiah akan menaikkan harga barang impor lain, mendorong inflasi, dan mengurangi daya beli masyarakat,” pungkas Achmad.

Dengan beberapa dampak ini, Achmad menilai bahwa kesepakatan seperti ini justru menambah ketergantungan pada pasar AS di sisi ekspor dan produk AS di sisi impor. Ini bukan strategi cerdas jangka panjang.

Bahkan, dirinya menambahkan, jika AS menurunkan tarif menjadi 10 persen atau 5 persen sekalipun dengan syarat Indonesia membeli lebih banyak produk mereka, maka itu tetap bukan win-win solution. 

Tanggapan Istana

Di sisi lain, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi menyatakan bahwa penurunan besaran tarif resiprokal AS dari 32 persen menjadi 19 persen sendiri merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.

Menurutnya, angka tarif 19 persen itu sendiri merupakan jumlah yang jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan jumlah tarif resiprokal negara lainnya seperti Vietnam.

“Dari tarif awal itu turun ke 19 persen, jadi lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN,” ucap Hasan.

Meski belum diungkap secara rinci isi kesepakatan yang dimaksud, baik dari pihak Indonesia maupun AS, pernyataan Presiden RI dan Presiden AS ni menunjukkan adanya sinyalemen positif dalam kerja sama dagang kedua negara. Apalagi, Trump menyebutkan bahwa dirinya akan memberikan detail lebih lanjut dalam waktu dekat.

Selain itu, Indonesia juga berkomitmen membeli sejumlah produk AS yang dibutuhkan di dalam negeri seperti produk pertanian seperti kedelai dan gandum, hingga pesawat Boeing.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com