Ekonomi . 31/07/2025, 10:08 WIB

BRI Fokus Kembangkan Bisnis Gadai, Payroll, dan KPR di Tengah Penurunan Laba Semester I 2025

Penulis : Sigit Nugroho  |  Editor : Sigit Nugroho

fin.co.id - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengumumkan fokus barunya pada tiga pilar bisnis utama yang akan menjadi andalan di tengah proses transformasi sektor mikro. Langkah ini diambil menyusul penurunan laba bersih perusahaan pada semester I 2025.

Apa Strategi Baru BRI di Semester I 2025?

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa perusahaan saat ini sedang memperkuat tiga lini bisnis utama: layanan gadai atau bullion bank, produk kredit berbasis gaji (payroll) atau Briguna, serta proses baru pada kredit pemilikan rumah (KPR). Ketiganya disebut sebagai penopang pertumbuhan sementara sektor mikro masih dalam tahap penyempurnaan dan transformasi lebih lanjut.

"Kami memperluas layanan gadai atau bullion bank. Di sisi lain kita memperkuat bisnis payroll atau Briguna karena kita sadar ini memiliki tingkat NPL yang bagus, hanya 1 persen," ujar Hery saat paparan kinerja BRI semester I-2025 melalui aplikasi zoom, Kamis, 31 Juli 2025.

Kapan Transformasi Ini Dimulai?

Transformasi ini telah berjalan sejak awal 2025, seiring dengan evaluasi kinerja keuangan BRI yang menunjukkan perlambatan pada semester pertama. Fokus pada penguatan bisnis non-mikro dianggap sebagai langkah strategis jangka pendek sambil terus membenahi sektor mikro yang menjadi tulang punggung BRI selama ini.

Bagaimana Kinerja Keuangan BRI Semester I 2025?

Sepanjang Januari–Juni 2025, BRI membukukan laba bersih periode berjalan sebesar Rp26,53 triliun. Angka ini mengalami penurunan 11,25 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp29,89 triliun.

Meski pendapatan bunga tumbuh 2,6 persen yoy menjadi Rp102,37 triliun, beban bunga juga meningkat 2,07 persen menjadi Rp29,10 triliun. Akibatnya, pendapatan bunga bersih hanya naik tipis 2,8 persen menjadi Rp73,27 triliun.

Apa Penyebab Turunnya Laba BRI?

Salah satu penyebab utama penurunan laba BRI adalah membengkaknya beban operasional. Beban tenaga kerja tercatat naik 5,34 persen yoy menjadi Rp21,73 triliun, sementara beban lainnya melonjak signifikan sebesar 87,8 persen yoy menjadi Rp44,94 triliun.

Kondisi ini berdampak pada laba operasional yang turun 9,20 persen yoy menjadi Rp35 triliun. Selain itu, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga naik dari 67,38 persen menjadi 71,80 persen. Rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) turut tergerus dari 6,81 persen menjadi 6,58 persen.

Apa Upaya BRI untuk Menanggapi Tekanan Kinerja?

Untuk mengatasi tekanan terhadap laba dan efisiensi operasional, BRI juga melakukan pembenahan proses bisnis pada new core KPR, auto loan berbasis gadai emas, serta penguatan pada sistem payroll. Pembenahan ini dilakukan tidak hanya pada aspek produk, tetapi juga mencakup penguatan sumber daya manusia dan manajemen risiko.

"Transformasi tidak hanya pada lini bisnis, tapi juga menyentuh human capital dan risk management,” tegas Hery Gunardi.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com