Nasional . 27/08/2025, 20:47 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah memanfaatkan kewenangan mereka secara penuh dalam upaya menekan angka Tuberkulosis (TBC).
Ia menegaskan, berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024, Indonesia menempati posisi kedua di dunia dengan estimasi 1,09 juta kasus TBC serta 125 ribu kematian per tahun. Data ini menunjukkan perlunya langkah cepat, terintegrasi, dan masif dalam menangani TBC.
“Mohon kepada rekan-rekan kepala daerah yang memiliki power, otoritas, kebijakan, sumber daya lebih serius menangani ini,” ujar Tito di Kantor Kemendagri, Rabu, 27 Agustus 2025.
Menurut Tito, pemerintah daerah (Pemda) memiliki posisi penting dalam mempercepat eliminasi TBC. Ia menekankan agar provinsi dengan jumlah kasus tinggi, seperti Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, hingga Nusa Tenggara Timur, memperkuat kolaborasi lintas sektor.
"Ini menjadi tanggung jawab kita semua, pusat dan juga daerah. Bapak-bapak dan Ibu-ibu tolong (masalah TBC), ini masalah nyawa," tegasnya.
Mendagri juga menyinggung pengalaman Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 sebagai bukti bahwa kerja sama lintas sektor dapat membawa hasil signifikan, meskipun saat itu vaksin belum tersedia. Karena itu, ia menilai TBC juga harus ditangani dengan keseriusan serupa.
Tito turut menyoroti kesenjangan layanan kesehatan di daerah. Dalam kunjungannya ke Papua Pegunungan, ia menemukan kasus TBC pada anak-anak yang belum tertangani dengan baik.
“Nah ini, itulah kira-kira ironisnya. Sehingga kita membutuhkan keseriusan,” ungkapnya.
Menkes: TBC Lebih Mematikan dari Covid-19
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menambahkan, percepatan eliminasi TBC merupakan salah satu quick win Presiden Prabowo. Ia menegaskan bahwa TBC justru lebih mematikan dibanding Covid-19.
“Sejak ditemukan, TBC telah merenggut hingga 1 miliar nyawa di dunia. Saat ini, setiap tahun terdapat sekitar 1 juta kematian global, termasuk 125 ribu di Indonesia. Artinya, setiap lima menit ada dua orang Indonesia meninggal karena TBC,” kata Budi.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah menemukan kasus yang belum terdeteksi. Dari estimasi 1 juta kasus per tahun, baru 508.994 yang tercatat hingga 25 Agustus 2025 atau sekitar 47 persen dari target nasional. Hanya Provinsi Banten yang berhasil memenuhi target notifikasi kasus.
“Target tahun ini adalah menemukan minimal 900 ribu kasus. Begitu pasien ditemukan, pengobatan jelas tersedia. Yang terpenting memastikan pasien minum obat teratur selama enam bulan agar sembuh total dan tidak menularkan lagi,” jelasnya.
Dari kasus yang telah terdeteksi, sekitar 90 persen pasien TBC sensitif obat sudah menjalani pengobatan. Namun, pada TBC resisten obat, angka pengobatan baru mencapai 77 persen dari target 95 persen. Tingkat keberhasilan terapi juga masih di bawah target: tidak ada provinsi yang mencapai 90 persen untuk TBC sensitif obat, dan hanya Kalimantan Utara yang memenuhi target 80 persen untuk TBC resisten obat.
Selain itu, cakupan Terapi Pencegahan TBC (TPT) masih rendah. Hingga Agustus 2025, baru 108.590 kontak serumah pasien TBC atau sekitar 8 persen yang mendapat TPT, jauh dari target nasional 72 persen.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media