Politik . 28/08/2025, 10:47 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id – Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menyoroti ketimpangan sikap antara Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara yang dinilainya justru menjadi pengganggu stabilitas politik dan sosial.
Menurut Pangi, Presiden Prabowo telah menunjukkan kepemimpinan yang tegas, visioner, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Namun di saat yang sama, ia menyayangkan munculnya berbagai pernyataan dan kebijakan kontroversial dari sejumlah menteri dan anggota DPR yang justru menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
“Presiden sedang berjuang keras mengembalikan wibawa negara di mata dunia. Tapi justru ada menteri dan anggota DPR yang sibuk memantik polemik, bahkan menciptakan keresahan publik,” kata Pangi dalam keterangannya kepada fin.co.id, Kamis, 28 Agustus 2025.
Ia mencontohkan bagaimana wibawa Indonesia meningkat secara global saat Presiden Prabowo hadir di perayaan Bastille Day 2025 di Prancis, di mana Indonesia mendapat penghormatan tinggi. Di dalam negeri, langkah Presiden menghentikan tantiem besar bagi direksi dan komisaris BUMN juga disebut sebagai langkah berani dan penuh empati.
“Kebijakan itu disambut positif oleh publik, bahkan DPR pun memberikan tepuk tangan meriah. Artinya, ini adalah contoh presiden yang peka terhadap kondisi masyarakat,” tegas Pangi.
Namun kontras dengan sikap Presiden, sejumlah anggota DPR dan menteri justru melahirkan kebijakan yang dinilai ngawur dan tidak sensitif.
Pangi menyoroti berbagai isu seperti usulan tunjangan rumah Rp50 juta, keluhan kemacetan oleh anggota DPR, hingga komentar beberapa menteri yang dinilai melukai rakyat.
“Alih-alih mendukung kerja Presiden, mereka malah menjadi beban. DPR sibuk berjoget di ruang paripurna, seorang menteri bicara soal penyitaan tanah, ada pula yang seenaknya menyebut gaji guru membebani negara. Semua ini menimbulkan luka di hati rakyat,” katanya.
Ia juga mengkritik keras pernyataan kontroversial anggota DPR yang menyebut usulan pembubaran DPR sebagai “pendapat orang tolol sedunia.” Menurutnya, pernyataan seperti ini justru memancing kemarahan publik dan membuktikan rendahnya kepekaan terhadap aspirasi rakyat.
“Rakyat sedang susah, tapi pejabat malah sibuk flexing, menari, dan membuat drama. Yang rakyat butuhkan adalah pejabat yang bekerja, bukan bicara seenaknya lalu minta maaf,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pangi menilai bahwa Presiden Prabowo kini tengah menghadapi tekanan dari kekuatan oligarki yang merasa terusik. Namun ia meyakini, selama Presiden tetap berpihak kepada rakyat, kekuatan rakyat akan menjadi tameng yang kokoh.
“Rakyat akan berdiri menjaga Presiden. Sekuat apapun tekanan dari oligarki, selama Presiden konsisten pro-rakyat, simpati publik akan terus mengalir,” tutup Pangi.
Pernyataan Pangi menjadi cerminan suara publik yang berharap para pejabat negara menanggalkan ego pribadi dan sensasi, serta kembali pada tugas utama mereka: bekerja untuk rakyat dan menjaga kepercayaan publik.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media