Nasional . 22/10/2025, 22:21 WIB

Mensos Gus Ipul Apresiasi SRT 53 Pontianak Sebagai Teladan Toleransi di Dunia Pendidikan

Penulis : Sigit Nugroho  |  Editor : Sigit Nugroho

fin.co.id - Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul mengaku terharu sekaligus bangga dengan semangat toleransi yang ditunjukkan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 53 Pontianak. Ia menilai sekolah tersebut berhasil menciptakan lingkungan belajar yang rukun dan penuh empati di tengah keberagaman agama maupun budaya.

“Doanya beda-beda, tapi duduknya berjejer. Rukun, saling peduli satu sama lain. Ini toleransi yang nyata, yang harus kita apresiasi dan perkuat,” ujar Gus Ipul saat berkunjung ke SRT 53 Pontianak pada Rabu, 22 Oktober 2025.

Keberagaman yang Tumbuh Secara Alami

Menurut Gus Ipul, suasana harmonis di sekolah tersebut menunjukkan bahwa toleransi tidak perlu dipaksakan melalui teori, melainkan bisa tumbuh alami lewat kebiasaan dan interaksi sehari-hari. Ia menilai pendekatan karakter yang diterapkan SRT 53 menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat mencetak generasi muda yang inklusif.

“Ini membuktikan bahwa pendidikan karakter bukan hanya teori, tapi sudah dipraktikkan sejak dini di sekolah ini. Toleransi bukan diajarkan, tapi ditumbuhkan melalui kebiasaan bersama,” kata dia.

Ia juga menyoroti bahwa keberhasilan sekolah itu tak lepas dari peran guru dan kepala sekolah yang memahami keberagaman latar belakang siswanya. Empati dan kesabaran menjadi kunci dalam mendidik anak-anak yang berasal dari lingkungan sosial berbeda.

Pendidikan yang Manusiawi dan Inklusif

Gus Ipul menekankan, pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Guru harus memiliki kemampuan sosial dan emosional untuk menumbuhkan rasa saling menghormati antar siswa. Dengan cara itu, sekolah dapat menjadi tempat yang aman bagi semua anak tanpa memandang agama atau asal mereka.

“Anak-anak di Sekolah Rakyat datang dari lingkungan yang berbeda. Maka pendekatan yang digunakan pun harus lebih manusiawi dan inklusif,” jelasnya.

Ia menambahkan, sekolah harus menjadi ruang yang terbebas dari tiga dosa besar dunia pendidikan: bullying, kekerasan seksual, dan intoleransi. Ketiga hal tersebut, kata Gus Ipul, harus dicegah sejak dini agar tidak mencederai tumbuh kembang anak.

“Tiga dosa besar pendidikan — bullying, pelecehan seksual, dan intoleransi — harus dicegah sejak dini di lingkungan sekolah,” tegasnya.

Teladan Toleransi di Tengah Keberagaman

SRT 53 Pontianak kini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan berbasis karakter mampu menumbuhkan nilai kebersamaan di tengah perbedaan. Kehidupan di sekolah ini membuktikan bahwa kerukunan bisa dimulai dari ruang kelas, bukan hanya dari wacana.

“Potret toleransi di SRT 53 Pontianak menjadi bukti bahwa perbedaan tidak harus memecah, tapi bisa menjadi kekuatan dalam membangun karakter bangsa sejak dini,” ujar Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna.

Keberhasilan sekolah ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain di seluruh Indonesia untuk menanamkan nilai toleransi dan kemanusiaan sejak dini, demi mencetak generasi yang menghargai perbedaan serta menjunjung tinggi persatuan bangsa. - Dimas Rafi/Disway

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com