Hukum dan Kriminal . 11/11/2025, 20:05 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Lembaga advokasi hak asasi manusia Setara Institute menyoroti kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta yang terjadi pada Jumat 7 November 2025 lalu dan menegaskan pentingnya perhatian serius terhadap isu perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
Ledakan yang mengguncang sekolah di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara itu menyebabkan 96 orang luka-luka, termasuk guru, siswa, dan warga sekitar.
Menariknya, terduga pelaku yang kini berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH) juga disebut-sebut merupakan korban perundungan di sekolahnya sendiri.
“Fakta bahwa terduga pelaku berusia 17 tahun sering menjadi korban bullying harus memantik perhatian serius dari para pemangku kebijakan pendidikan, khususnya di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen),” tulis Setara Institute dalam siaran persnya, Selasa, 11 November 2025.
Sekolah Harus Jadi Ruang Aman, Bukan Ruang Takut
Setara Institute menegaskan, perundungan dalam bentuk apa pun tidak bisa ditoleransi di lingkungan pendidikan. Menurut lembaga ini, sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi peserta didik untuk tumbuh dan belajar, bukan tempat yang justru menumbuhkan rasa takut dan dendam.
“Kita semua seharusnya tidak memberikan toleransi sekecil apa pun pada berbagai bentuk perundungan yang terjadi di sekolah,” tegas Setara.
Lembaga tersebut menilai, kasus ini bukan sekadar tindakan kriminal individual, tetapi indikasi adanya kegagalan sistemik dalam menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman bagi semua siswa.
Bullying Bisa Menjerumuskan ke Aksi Ekstrem
Setara Institute juga menyoroti potensi bahaya jangka panjang dari perundungan, yang bisa menjurus pada balas dendam atau bahkan tindakan ekstremisme kekerasan.
“Perundungan terbukti tidak saja menyakiti para korban, bahkan dapat menghilangkan nyawa dan menjerumuskan mereka pada berbagai anomali, hingga tingkatan ekstrem seperti aksi kekerasan dan teror,” ungkap Setara dalam pernyataannya.
Laporan riset Setara Institute tahun 2023 menunjukkan bahwa tingkat intoleransi di kalangan remaja SMA meningkat, meski secara umum angka toleransi masih cukup tinggi (70,2 persen).
Namun, remaja yang dikategorikan sebagai “intoleran aktif” naik menjadi 5 persen, dari sebelumnya 3,5 persen pada riset tahun 2016.
Sementara itu, remaja yang terpapar ideologi ekstremisme juga naik dari 0,3 persen menjadi 0,6 persen. Angka kecil ini, menurut Setara, menunjukkan potensi bahaya laten yang bisa berkembang bila tidak ditangani sejak dini.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media