Hukum dan Kriminal . 11/11/2025, 20:05 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id – Fakta baru yang sangat mengkhawatirkan terungkap dari penyelidikan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri terhadap kasus ledakan bom di SMAN 72 Jakarta. Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) berinisial NF (17) ternyata menjadikan aksi kekerasan ekstrem global sebagai inspirasi utama di balik tindakannya.
Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa simbol dan tulisan yang ditemukan pada senjata mainan milik NF mengindikasikan ketertarikannya pada berbagai aksi kekerasan yang terjadi di sejumlah negara. Namun, AKBP Mayndra menekankan bahwa inspirasi ini tidak berarti NF terafiliasi dengan jaringan teror atau ideologi terorganisir.
"Simbol-simbol tersebut bukan merupakan relasi komunitas atau relasi entitas. ABH tidak berafiliasi dengan paham atau tokoh-tokoh yang dicantumkan, karena itu sekadar menginspirasi," tegas Mayndra kepada awak media, Selasa, 11 November 2025. Hal ini menegaskan bahwa kasus NF lebih condong pada fenomena radikalisasi mandiri (self-radicalization) yang berakar dari masalah psikologis pribadi.
Hasil penelusuran digital Densus 88 menunjukkan NF mulai mencari referensi terkait kekerasan ekstrem sejak awal tahun 2025. NF diketahui aktif mengakses situs-situs yang menampilkan video atau foto kematian brutal, dan bergabung dalam komunitas daring yang mengagungkan tindakan kekerasan sebagai sesuatu yang heroik.
"Yang bersangkutan mencari bagaimana orang-orang meninggal dunia, mengalami kekerasan secara keji, hingga mengakses komunitas yang menganggap tindakan seperti itu heroik," jelas AKBP Mayndra. Densus 88 bahkan berhasil mengidentifikasi setidaknya enam figur pelaku kekerasan massal dari berbagai negara yang menjadi sumber inspirasi pelaku:
Nama Brenton Tarrant bahkan menjadi tulisan yang paling jelas terlihat di senjata mainan NF, meskipun Densus 88 mencatat ideologi yang diserap pelaku bersifat campuran dan tidak konsisten, menunjukkan eksplorasi tanpa fokus.
Pihak kepolisian turut mengungkap kondisi psikologis NF yang melatarbelakangi aksinya. Kapolda Metro Jaya, Irjen Asep Edi Suheri, mengonfirmasi bahwa NF berkepribadian tertutup. Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, menambahkan bahwa NF kerap merasa kesepian.
"Yang bersangkutan merasa sendiri dan tidak ada tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya di keluarga sendiri maupun di lingkungan sekolah," terang Kombes Imanuddin. Perasaan tertekan, kesepian, dan dendam atas perlakuan yang ia terima di lingkungan sekitar menjadi motivasi pribadinya, yang kemudian mencari pelampiasan dengan mengikuti pola kekerasan yang ia lihat di dunia maya.
Kasus NF menjadi peringatan penting bagi masyarakat luas, terutama orang tua dan pendidik, tentang maraknya kekerasan di dunia maya. Pengawasan ketat dan literasi digital menjadi kunci agar anak-anak tidak terseret dalam pola pikir keliru, apalagi hingga mengakses dark web dan komunitas online yang mengagungkan kekerasan ekstrem. - Rafi Adhi/Disway -
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media