Ekonomi . 19/11/2025, 21:44 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen memang disambut baik oleh banyak pihak, terutama para ekonom dan pakar keuangan. Langkah wait and see ini dinilai sebagai langkah bijak di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, perdebatan sengit tentang efektivitas penurunan suku bunga tetap menjadi sorotan utama, terutama karena potensi dampaknya yang mengancam nilai Rupiah!
Gubernur Bank Indonesia, Perry Walujo, memang sudah memberikan sinyal optimis. Ia menyatakan bahwa BI masih membuka opsi untuk menurunkan suku bunga acuan di masa depan. Opsi penurunan ini jelas bertujuan untuk memberikan dorongan ekstra bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Perry Walujo menegaskan bahwa keputusan tersebut akan diambil dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi global dan domestik, serta kecepatan transmisi penurunan suku bunga di perbankan.
“Penurunan akan mempertimbangkan dinamika ekonomi global dan domestik ke depan, serta kecepatan transmisi penurunan suku bunga di perbankan,” tutur Perry. Sinyal ini menciptakan harapan di pasar, namun para ekonom segera menyuarakan kewaspadaan tinggi. Mereka khawatir, keinginan untuk menurunkan suku bunga BI demi pertumbuhan domestik dapat berbenturan dengan stabilitas nilai tukar.
Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, adalah salah satu pakar yang memberikan pandangan kritis. Menurut Nailul Huda, dilihat dari sisi efektivitas, penurunan suku bunga acuan dinilai belum tentu menghasilkan pertumbuhan kredit yang signifikan. Artinya, pemangkasan suku bunga belum sepenuhnya sampai ke sektor riil dan belum berhasil mendorong gairah pinjaman.
Nailul Huda menjelaskan: “BI harus melihat dari sisi efektivitas dari penurunan, yang menurut saya, belum menghasilkan pertumbuhan kredit yang signifikan. Kemudian, efektivitas juga bisa dilihat dari penurunan suku bunga dasar perbankan yang juga lambat.” Kritik ini menyoroti transmisi kebijakan moneter dari BI ke perbankan dan akhirnya ke masyarakat. Jika bank enggan menurunkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) secara cepat, maka penurunan BI Rate menjadi sia-sia bagi pelaku usaha.
Ia menyoroti data pertumbuhan kredit perbankan. Meskipun BI sudah berkali-kali memangkas suku bunga acuan—sebuah langkah yang seharusnya memicu pinjaman—pertumbuhan kredit masih saja stagnan di angka 7 persen-an. Angka stagnan ini menjadi bukti paling nyata bahwa hanya menurunkan suku bunga saja tidak cukup untuk mendorong roda ekonomi. Perlu ada faktor lain yang diperbaiki, mungkin di sisi permintaan atau di sisi risiko perbankan.
Poin paling krusial yang ditekankan oleh Nailul Huda adalah risiko terhadap stabilitas mata uang. Ia memberikan peringatan keras bahwa jika BI memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan, dampaknya terhadap nilai tukar Rupiah harus diperhitungkan secara cermat dan matang.
“Ketika terjadi pemangkasan suku bunga acuan, harus dihitung betul dampaknya seperti apa ke rupiah kita,” tegas Nailul Huda. Kekhawatiran ini sangat beralasan. Penurunan suku bunga domestik membuat imbal hasil aset di Indonesia menjadi kurang menarik dibandingkan negara lain (terutama Amerika Serikat), memicu arus modal keluar (capital outflow) dan menekan nilai Rupiah.
Stabilitas nilai tukar Rupiah sangat penting, sebab depresiasi Rupiah dapat memicu kenaikan harga barang impor dan inflasi, yang pada akhirnya merugikan masyarakat. Oleh karena itu, Bank Indonesia berada di posisi dilematis: mereka ingin mendorong pertumbuhan (dengan menurunkan suku bunga), namun pada saat yang sama harus menjaga stabilitas harga dan nilai tukar (dengan menjaga suku bunga tetap kompetitif).
Keputusan mempertahankan BI Rate di 4,75 persen saat ini dianggap sebagai jalan tengah yang paling aman, memberi waktu bagi BI untuk mengukur risiko global dan domestik, serta menunggu sinyal yang lebih kuat mengenai efektivitas transmisi kebijakan moneter di sektor perbankan. Para pelaku pasar dan investor kini menantikan pengumuman kebijakan BI selanjutnya, berharap ada keseimbangan antara upaya mendorong pertumbuhan dan menjaga stabilitas ekonomi. - Bianca Khairunnisa/Disway -
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media