Internasional . 24/11/2025, 08:00 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Vietnam tengah dilanda bencana banjir besar-besaran sejak akhir Oktober hingga November 2025. Setelah berhari-hari diguyur hujan lebat dan tanah longsor, Kementerian Lingkungan Hidup merilis data terbaru pada hari Minggu 23 November, yakni korban meninggal dunia telah mencapai 90 orang, dengan 12 warga lainnya masih dinyatakan hilang.
Banjir ini disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tengah-selatan Vietnam. Wilayah tersebut, yang terkenal sebagai pusat penghasil kopi utama sekaligus rumah bagi pantai-pantai wisata populer, memang rentan terhadap badai. Namun, curah hujan kali ini mencetak rekor, bahkan melampaui 1.900 mm di beberapa area hanya dalam waktu satu minggu.
Provinsi pegunungan Dak Lak menjadi pusat bencana, menyumbang lebih dari 60 kematian sejak 16 November. Puluhan ribu rumah di provinsi ini dilaporkan terendam, sementara kawasan wisata populer seperti Hoi An juga ikut lumpuh, dengan jalanan yang disebut media setempat mirip "kanal-kanal Venesia" akibat tingginya genangan air.
Dilansir dari Theguardian, Pemerintah Vietnam mengerahkan personel gabungan dari militer, polisi, dan pasukan keamanan untuk melakukan evakuasi dan merelokasi warga ke tempat yang aman.
Laporan media pemerintah menyebutkan, pekan lalu, tim penyelamat di provinsi Gia Lai dan Dak Lak bahkan terpaksa memecahkan atap dan membuka paksa jendela rumah warga menggunakan perahu demi menolong mereka yang terjebak.
Kondisi darurat juga terjadi di fasilitas kesehatan. Di kota pesisir Quy Nhon, Provinsi Binh Dinh, surat kabar Thanh Niên melaporkan adanya rumah sakit yang terendam, di mana dokter dan pasien di dalamnya sempat bertahan hidup hanya dengan mi instan dan air selama tiga hari. Tim penyelamat pun harus berjibaku mengirimkan makanan dan air untuk membantu mereka.
Biro cuaca setempat mencatat bahwa ketinggian air di Sungai Ba (Dak Lak) dan Sungai Cai (Khánh Hòa) telah melampaui rekor yang pernah dicapai pada tahun 1993, menunjukkan betapa dahsyatnya banjir kali ini.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana Vietnam merilis data kerugian materiil yang masif: lebih dari 235.000 rumah terendam banjir dan hampir 80.000 hektar lahan pertanian rusak. Pemerintah memperkirakan total kerugian ekonomi akibat musibah ini mencapai angka fantastis, yakni sekitar 8,98 triliun dong, atau setara dengan sekitar Rp5,3 triliun.
Meskipun Vietnam rentan terhadap musim hujan lebat, para ilmuwan mengidentifikasi bahwa pola perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah membuat cuaca ekstrem menjadi lebih sering terjadi dan merusak di negara Asia Tenggara ini.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media