Nasional . 26/11/2025, 14:54 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Wacana mengembalikan sistem sekolah enam hari di jenjang SMA/SMK Jawa Tengah kembali memanas. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jateng bereaksi cepat dan tegas, mereka menolak keras wacana tersebut.
Menurut PGRI, sistem lima hari sekolah yang berjalan saat ini sudah paling ideal bagi perkembangan anak, guru, dan keluarga. Wacana lama yang tiba-tiba muncul lagi ini dinilai tidak mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan.
Ketua PGRI Jawa Tengah, Muhdi, menjelaskan bahwa sejak awal munculnya konsep lima hari sekolah, semangat utamanya adalah memberikan dua hari penuh untuk keluarga dan interaksi sosial siswa.
“Dari awal lima hari itu diambil supaya anak punya dua hari bersama keluarga. Tugas utama mendidik itu orang tua, sekolah hanya membantu,” ujar Muhdi saat upacara Hari Guru Nasional dan HUT PGRI di Upgris, Selasa 25 November 2025.
Ia juga menegaskan bahwa sekolah bukan tempat yang harus beroperasi enam hari layaknya pabrik, karena pendidikan bukan hanya soal tugas akademik, tetapi juga keseimbangan kehidupan sosial dan mental.
Pernyataan PGRI Jateng ini sejalan dengan sikap Mendikdasmen Abdul Mu’ti, yang sebelumnya menekankan perlunya satu hari khusus tiap pekan untuk:
Pengembangan diri siswa
Peningkatan profesional guru
Aktivitas nonformal
Waktu keluarga
Dalam kerangka ini, hari Sabtu seharusnya menjadi ruang fleksibel, bukan dipadatkan dengan agenda belajar formal.
PGRI: Sistem Lima Hari Lebih Manusiawi dan Efektif
Menurut Muhdi, kebijakan lima hari sekolah telah mempertimbangkan berbagai aspek penting:
1. Anak butuh dua hari penuh untuk keluarga dan interaksi sosial
Kesehatan mental, kecerdasan emosional, dan karakter tidak tumbuh hanya dari ruang kelas.
2. Guru perlu waktu mengasah kompetensi
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media