fin.co.id - Akhir November 2025 menjadi salah satu periode paling kelam bagi Asia Selatan dan Asia Tenggara. Banjir besar dan banjir bandang melanda Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Sri Lanka, mengakibatkan lebih dari 1.150 orang meninggal dunia menurut laporan sejumlah media internasional.
Banyak permukiman hancur, ribuan rumah rusak, hingga akses jalan dan listrik terputus total.
Bencana yang terjadi hampir bersamaan di empat negara ini bukan hanya disebabkan oleh meningkatnya intensitas musim hujan, tapi juga pengaruh dua badai tropis yang terbentuk di sekitar Samudra Hindia dan Selat Malaka.
Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak paling parah. Banjir bandang dan longsor menghantam beberapa wilayah di:
-
Provinsi Aceh,
-
Sumatera Utara,
-
Sumatera Barat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga Senin 1 Desember 2025 pukul 17.00 WIB, sebanyak 604 orang meninggal dunia di tiga provinsi tersebut.
Rincian korban di Sumatera:
-
Aceh:
-
156 meninggal
-
181 hilang
-
1.800 luka-luka
-
-
Sumatera Utara:
-
283 meninggal
-
114 hilang
-
613 luka-luka
-
-
Sumatera Barat:
-
165 meninggal
-
114 hilang
-
112 luka-luka
-
Selain korban jiwa, kerusakan infrastruktur juga sangat besar.
Data kerusakan infrastruktur di Sumatera:
-
3.500 rumah rusak berat
-
4.100 rumah rusak sedang
-
20.500 rumah rusak ringan
-
271 jembatan putus
-
282 fasilitas pendidikan rusak
Banyak desa terisolasi karena jalan amblas atau tertimbun material lumpur dan longsoran tanah. Ribuan warga kini masih mengungsi di fasilitas darurat.
Penyebab Banjir Bandang: Siklon Tropis Ditwah dan Senyar
Musim hujan tahun ini bukan sekadar musim hujan biasa. Menurut laporan Al Jazeera, dua badai tropis — Siklon Tropis Ditwah dan Siklon Tropis Senyar — menjadi pemicu curah hujan ekstrem yang menyebabkan banjir di empat negara sekaligus.