Kesehatan . 17/12/2025, 18:22 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Menyikat gigi bukan sekadar rutinitas pagi atau malam. Kalau dilakukan asal-asalan, bisa berisiko merusak gigi dan gusi. Menurut Guru Besar Ilmu Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Amaliya, drg., M.Sc., Ph.D, durasi dan teknik menyikat gigi menjadi kunci utama agar gigi tetap bersih dan gusi tetap sehat.
Prof. Amaliya menjelaskan bahwa menyikat gigi idealnya dilakukan selama dua menit. Durasi ini cukup untuk membersihkan seluruh permukaan gigi, termasuk bagian dalam yang sering terlupakan, seperti area yang dekat lidah dan gigi geraham yang digunakan untuk mengunyah. “Jangan lupa di bagian dalam yang kena ke lidah sama yang untuk mengunyah suka lupa. Jadi dari arah belakang, tiga gigi, pindah ke depan, satu sampai sepuluh, hitung. Jadi semua kena, kalau dihitung-hitung dua menit,” jelasnya dalam Media & Expert Indonesia Hygiene Forum 2025 di Jakarta, Rabu.
Teknik menyikat gigi juga penting. Alih-alih menggosok secara cepat atau keras, Amaliya menyarankan menyikat gigi per tiga gigi dari belakang ke depan, dan jangan lupa bagian dalam atas dan bawah. Cara ini tidak hanya membersihkan plak, tapi juga memijat gusi secara alami. “Jadi memang dari penyikatan itu, bukan hanya permukaan keras, tapi permukaan yang lunak, itu gusi ikut dipijat, jadi jangan cepat-cepat sikat giginya. Dua menit lah,” imbuhnya.
Sikap terlalu agresif saat menyikat gigi, yang disebut vigorous brushing, justru berisiko merusak enamel. Abrasi atau terkikisnya permukaan gigi bisa terjadi jika kita menggosok terlalu keras atau terlalu sering. Prof. Amaliya menekankan cukup menyikat gigi dua kali sehari: pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.
Selain teknik menyikat, waktu menyikat juga perlu diperhatikan, terutama setelah mengonsumsi makanan atau minuman asam. Menyikat gigi langsung setelah makan asam bisa mempercepat erosi gigi, sama seperti tanah yang terkikis air hujan. “Jadi kalau sering makan makanan asam, atau nyimpen-nyimpen jeruk ya di sini (geraham), itu juga mengalami abrasi, atau erosi ya. Seperti tanah juga terkikis gitu, karena si permukaan giginya terkena asam,” tegasnya.
Gigi dan gusi sehat juga sangat dipengaruhi oleh pola makan. Prof. Amaliya menyarankan membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, serta lebih memilih makanan alami atau real food. Nutrisi seperti vitamin C, E, dan zinc sangat berperan menjaga kesehatan gusi, yang menjadi penopang utama gigi. Makanan sehat ini tak hanya mencegah peradangan, tapi juga membantu menghindari risiko gigi berlubang.
Contoh sederhana yang ia sarankan, gunakan gula alami seperti madu sebagai pengganti gula olahan. Konsumsi sayuran, buah, dan makanan yang diproses secara minimal akan memperkuat gusi dan menjaga gigi tetap sehat. Dengan rutin menerapkan kombinasi menyikat gigi yang tepat dan pola makan sehat, risiko abrasi dan kerusakan gigi dapat ditekan secara signifikan.
Intinya, merawat gigi bukan hanya soal sikat cepat tiap pagi atau malam. Dua menit menyikat gigi dengan teknik yang benar, ditambah pola makan sehat, akan membuat gigi tetap bersih dan gusi tetap kuat. Jadi, mulai sekarang, hitung dua menitmu saat menyikat gigi, jangan asal gosok. (ANTARA)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media