Ekonomi . 17/12/2025, 18:11 WIB

Swasembada Gula 2026 Terancam? DPR Desak Pemerintah Rombak Total Ekosistem Industri Tebu

Penulis : Sigit Nugroho  |  Editor : Sigit Nugroho

fin.co.id - Pemerintah saat ini tengah berpacu dengan waktu untuk mewujudkan mimpi besar swasembada gula pada tahun 2026. Namun, target ambisius di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini tidak akan tercapai jika pemerintah hanya fokus pada angka-angka di atas kertas. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI memberikan peringatan keras bahwa perbaikan ekosistem gula nasional harus menjadi prioritas utama sekarang juga, bukan sekadar mengejar status swasembada.

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Nasim Khan, mengungkapkan bahwa saat ini petani sudah mulai memasuki musim tanam tebu untuk persiapan panen dan giling tahun 2026. Menurutnya, penguatan industri pemanis ini merupakan kepentingan strategis jangka panjang yang menyangkut hajat hidup orang banyak, keberlanjutan ekonomi desa, hingga daya saing industri nasional di kancah global.

Bukan Sekadar Target, Ini Soal Ketahanan Pangan Nasional

Nasim menegaskan bahwa pembenahan menyeluruh merupakan satu-satunya jalan keluar agar masalah klasik industri gula tidak terus berulang setiap tahun. Ia menyoroti bagaimana industri ini seringkali terjebak dalam solusi instan yang justru merugikan dalam jangka panjang.

“Perbaikan ekosistem gula nasional bukan hanya soal mengejar target swasembada. Ini adalah kepentingan besar dan jangka panjang bagi ketahanan pangan serta keberlangsungan industri nasional. Tanpa pembenahan menyeluruh, masalah gula akan terus berulang,” tegas Nasim secara lugas.

Tanpa fondasi ekosistem yang sehat, industri dalam negeri akan terus rapuh dan sangat bergantung pada keran impor. Nasim melihat peningkatan produktivitas, baik di level perkebunan rakyat maupun di lini produksi pabrik, sebagai harga mati untuk memperkuat struktur industri gula kita.

Modernisasi Mesin "Zaman Belanda" Jadi Kunci Utama

Mengapa produktivitas tebu kita sulit bersaing? Jawabannya ada pada teknologi. Nasim mendesak pemerintah untuk serius memberikan perhatian pada investasi modernisasi. Faktanya, banyak pabrik gula di Indonesia yang masih menggunakan peralatan peninggalan zaman kolonial Belanda yang sudah tidak efisien lagi.

Modernisasi teknologi ini sangat krusial agar petani lebih mudah saat menanam dan mampu menghasilkan tebu dengan kadar rendemen yang jauh lebih tinggi. Jika mesin pabrik optimal dan teknologi budidaya petani canggih, maka secara otomatis daya saing gula nasional akan meningkat drastis, baik dari segi kualitas maupun harga.

“Jadi solusinya tidak tambal sulam seperti sekarang. Ketika daya saing kita meningkat, secara natural seharusnya tidak lagi ketergantungan terhadap impor. Tapi yang terpenting, kita punya ekosistem dan tata niaga gula yang jelas sehingga petani juga lebih bersemangat karena ada kepastian,” tambah Nasim.

Belajar dari Luka Musim Giling 2025

Kita tidak boleh melupakan drama yang terjadi pada musim panen dan giling tahun 2025. Ketidakpastian produksi dan hambatan dalam penyerapan gula nasional sempat memicu keresahan massal di kalangan petani. Di Jawa Timur, yang merupakan lumbung tebu nasional, puluhan ribu petani bahkan sempat mengancam akan mogok tanam. Ini adalah sinyal bahaya bagi kedaulatan pangan kita.

Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sundari Edy Sukamto, mengakui bahwa banyak petani yang merugi besar pada musim giling 2025. Ia menaruh harapan besar agar pemerintah segera melakukan perbaikan nyata pada industri ini.

“Sehingga persoalan-persoalan seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari, dan petani memiliki kepastian serta semakin bergairah menanam tebu di musim berikutnya,” tutur Sundari dalam keterangannya. Para petani membutuhkan bukti nyata, bukan sekadar janji manis swasembada tanpa perlindungan harga dan jaminan serapan yang jelas.

Agenda Struktural Demi Masa Depan Petani

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com