Megapolitan . 17/12/2025, 18:53 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Kondisi Kota Tangerang Selatan (Tangsel) saat ini benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Jika Anda melintasi kawasan Ciputat atau Setu belakangan ini, pemandangan tumpukan sampah setinggi orang dewasa bukan lagi hal aneh. Masalahnya, krisis ini mulai memukul sendi ekonomi warga bawah. Para pedagang di sekitar Pasar Ciputat mulai berteriak karena omzet mereka terjun bebas akibat bau busuk yang menyengat hingga radius ratusan meter.
Pantauan langsung di lapangan pada Rabu, 17 Desember 2025 pagi menunjukkan tumpukan limbah rumah tangga memenuhi trotoar di Jalan Dewi Sartika hingga bawah flyover Ciputat. Sampah-sampah plastik berukuran besar tampak berjejer rapi namun membusuk, hanya tertutup terpal biru atau baliho bekas yang sudah lusuh. Ironisnya, pemandangan ini terjadi tepat di jantung aktivitas ekonomi warga.
Dampak nyata dari darurat sampah ini dirasakan langsung oleh Agus (57), seorang pedagang sate yang biasa mangkal di bawah flyover. Ia mengaku sangat frustrasi karena tumpukan sampah setinggi 160 cm kini menjadi "pemandangan" utama di depan lapak dagangannya. Akibatnya, pelanggan yang biasanya makan di tempat memilih untuk pergi karena tidak tahan dengan aroma tak sedap.
"Omzet jelas agak menurun, mungkin sekitar 10 sampai 20 persen. Kondisi ini sudah terjadi seminggu lebih. Kalau makan di tempat itu sudah sangat kurang nyaman karena baunya yang menyengat," keluh Agus. Ia juga menambahkan bahwa biasanya sampah diangkut setiap pagi, namun sepekan terakhir tumpukan itu justru seolah menjadi pajangan tetap di jalan raya.
Senada dengan Agus, Fikri (35), pedagang sayur di Pasar Ciputat, merasa dirugikan karena tumpukan sampah berada tepat di belakang lapaknya. Yang lebih menyesakkan hati, Fikri mengaku tetap membayar uang kebersihan setiap hari sebesar Rp10.000 per lapak, namun sampah tidak kunjung hilang. "Setiap hari uang kebersihan diambilin, tapi efeknya kayak begini. Kita rasanya cuma-cuma kasih uang kebersihan kalau sampahnya tetap menumpuk," selorohnya ketus.
Mengapa sampah di Tangsel mendadak berhenti diangkut? Desas-desus di kalangan warga dan pedagang menyebutkan adanya masalah serius di hulu pengelolaan sampah. Fikri mendengar kabar adanya sengketa lahan pembuangan yang sudah berlangsung tiga bulan. Sementara itu, Budi (30), pedagang di dekat kantor DPRD Tangsel, mendapat informasi bahwa TPA Cipeucang ditutup sementara oleh warga.
"Menurut informasi, waktu kemarin hujan sempat longsor sampai ke Sungai Cisadane. Akhirnya didemo dan ditutup. Makanya petugas yang ambil sampah sekarang bingung mau buang ke mana," tutur Budi. Akibat penutupan ini, warga di lingkungan permukiman pun mulai panik karena tidak tahu harus membuang sampah ke mana lagi.
Ada hal yang cukup menggelitik di tengah krisis ini. Jika jalanan utama dan pasar di Ciputat terlihat kumuh dan bau, kondisi berbeda justru terlihat di Komplek Gedung Pemerintah Kota Tangerang Selatan di Jalan Adi Sengkong. Area pusat pemerintahan ini tampak bersih mengkilap tanpa ada satu pun tumpukan plastik sampah dalam radius 300 meter. Kontrasnya kondisi ini memicu tanda tanya besar di kalangan masyarakat terkait prioritas penanganan kebersihan.
Menanggapi krisis ini, Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, angkat bicara. Ia menyatakan bahwa pengelolaan sampah di wilayahnya akan segera ditangani melalui anggaran Danantara dan program Pengelolaan Sampah jadi Energi Listrik (PSEL) berdasarkan Perpres 109 Tahun 2025. "Dengan PSEL itu Danantara yang akan masuk. Kami sedang menunggu respons dan tindak lanjut dari Kementerian Lingkungan Hidup agar segera dilaksanakan," ungkap Benyamin.
Kritik tajam datang dari parlemen. Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Tangerang Selatan, Muthmainnah, mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah darurat dan tidak hanya memberikan penjelasan normatif. Menurutnya, tumpukan sampah yang dibiarkan berhari-hari bukan sekadar masalah estetika kota, melainkan sudah menjadi ancaman kesehatan serius bagi warga.
"Kita tidak bisa terus bergantung pada satu TPA tanpa solusi alternatif yang matang. Ketika TPA Cipeucang bermasalah, seharusnya sudah ada skema antisipasi agar sampah tidak menumpuk di jalanan dan trotoar. Warga butuh aksi nyata, bukan sekadar rencana," tegas Muthmainnah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media