Nasional . 06/01/2026, 16:18 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali memicu kewaspadaan. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami erupsi beruntun dalam waktu singkat pada Selasa pagi. Abu vulkanik terlontar ke arah timur laut, sementara status gunung masih berada di level siaga.
Berdasarkan laporan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, aktivitas erupsi terjadi tiga kali kurang dari satu jam. Rentetan letusan tersebut berlangsung sejak pukul 08.07 WIB hingga 08.24 WIB. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas magma di perut Gunung Semeru masih cukup aktif dan perlu terus dipantau secara intensif.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menjelaskan bahwa erupsi pertama terjadi pada pukul 08.07 WIB. Saat itu, kolom letusan teramati mencapai sekitar 400 meter di atas puncak gunung. Jika dihitung dari permukaan laut, tinggi kolom abu mencapai 4.076 meter mdpl.
Kolom abu vulkanik yang keluar dari kawah terlihat berwarna putih hingga kelabu. Intensitasnya tergolong sedang dan bergerak ke arah timur laut. Arah sebaran ini menjadi perhatian karena berpotensi berdampak pada wilayah yang berada di jalur abu vulkanik.
Tak berselang lama, Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas erupsi. Letusan kedua terjadi pada pukul 08.21 WIB. Kali ini, tinggi kolom erupsi meningkat hingga sekitar 600 meter di atas puncak atau setara 4.276 meter mdpl. Warna kolom abu masih terpantau putih hingga kelabu dengan intensitas sedang, serta bergerak ke arah yang sama, yakni timur laut.
Tiga menit setelahnya, tepat pada pukul 08.24 WIB, Gunung Semeru kembali erupsi. Namun, pada erupsi ketiga ini, tinggi kolom letusan tidak teramati secara visual. Meski demikian, kejadian tersebut tetap tercatat sebagai bagian dari rangkaian aktivitas vulkanik yang terjadi pagi itu.
Dengan frekuensi erupsi yang cukup rapat, Gunung Semeru saat ini masih berada pada status Level III atau Siaga. Status ini membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat di sekitar kawasan gunung.
PVMBG melarang masyarakat melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, khususnya di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Area terlarang ini mencakup radius sejauh 13 kilometer dari puncak gunung yang menjadi pusat erupsi. Wilayah tersebut dinilai memiliki potensi tinggi terdampak awan panas maupun material vulkanik.
Selain itu, masyarakat juga diminta menjauhi area sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Pada jarak 500 meter dari tepi sungai, aktivitas apapun tidak diperbolehkan. Larangan ini berlaku karena adanya potensi perluasan awan panas serta aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak Gunung Semeru.
Tak hanya itu, PVMBG juga menegaskan larangan beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Area ini dinilai rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar yang bisa terjadi sewaktu-waktu saat erupsi berlangsung.
Masyarakat di sekitar kawasan gunung juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya lanjutan. Ancaman awan panas, guguran lava, dan aliran lahar masih mungkin terjadi, terutama di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu langsung di puncak Gunung Semeru.
Wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan juga berpotensi menjadi jalur aliran lahar, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Rangkaian erupsi Gunung Semeru ini kembali menjadi pengingat bahwa aktivitas gunung api di Indonesia bersifat dinamis. Pemantauan berkelanjutan serta kepatuhan terhadap rekomendasi resmi menjadi kunci untuk meminimalkan risiko bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana. (ANTARA)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media