Nasional . 27/01/2026, 11:12 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - TNI AL kehilangan putra-putra terbaiknya. Sebanyak 23 prajurit Jalasena dari Korps Marinir tertimpa musibah tanah longsor yang terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Peristiwa tragis itu terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, ketika kondisi cuaca ekstrem melanda kawasan tersebut. Saat kejadian, para prajurit ini tengah menjalani Latihan Pratugas Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-Papua Nugini (PNG).
“Kami menyampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga besar prajurit yang terdampak musibah ini,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksma TNI Tunggul, di Jakarta pada Selasa, 27 Januari 2026.
Menurut penjelasan resmi TNI AL, intensitas hujan yang sangat tinggi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan kontur tanah di lokasi latihan menjadi labil. Hingga akhirnya terjadi longsor besar. Material tanah dan bebatuan menimbun area tempat prajurit Marinir bermarkas sementara saat latihan berlangsung.
“Ini murni bencana alam akibat cuaca ekstrem. Tidak ada unsur kelalaian dalam pelaksanaan latihan,” tegas Tunggul.
Hingga laporan terakhir, empat prajurit Marinir telah ditemukan dalam kondisi gugur. Sementara 19 personel lainnya masih dinyatakan hilang dan berada dalam proses pencarian intensif.
Operasi evakuasi menghadapi tantangan berat. Karena medan terjal, akses jalan sempit, serta cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat. Untuk mempercepat proses pencarian, TNI AL mengerahkan sekitar 200 personel Korps Marinir, bekerja sama dengan berbagai unsur terkait.
Sejumlah teknologi juga digunakan, antara lain:
“Kami akan terus berupaya maksimal hingga seluruh prajurit dapat ditemukan,” papar Tunggul.
TNI AL menegaskan sesuai peraturan yang berlaku, seluruh hak prajurit yang gugur maupun hilang akan dipenuhi sepenuhnya. Negara juga memastikan pendampingan serta santunan kepada keluarga korban. TNI AL, lanjutnya, tidak akan berhenti hingga seluruh prajurit ditemukan.
“Pengabdian mereka adalah wujud loyalitas tertinggi prajurit Jalasena dalam menjaga keutuhan NKRI. Kami terus berupaya mengevakuasi seluruh korban dengan segala sumber daya yang ada,” terang Tunggul.
Para korban merupakan bagian dari keluarga besar Batalyon Infanteri 9/Bala Jala Yudha Perkasa, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Beruang Hitam.
Satuan di bawah Brigif 4 Marinir/BS ini sebenarnya sedang disiapkan untuk misi menjaga stabilitas di wilayah perbatasan RI-Papua Nugini.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media