Megapolitan . 27/01/2026, 19:23 WIB
Penulis : Rikhi Ferdian Herisetiana | Editor : Rikhi Ferdian Herisetiana
fin.co.id - Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko persebaran penyakit yang kerap muncul setelah genangan banjir surut. Lingkungan yang lembap dan sisa sanitasi yang buruk dinilai menjadi faktor utama pemicu gangguan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, mengungkapkan bahwa kondisi lingkungan pascabanjir sangat rentan menjadi medium penularan penyakit. Genangan air yang tersisa serta tumpukan lumpur sering kali menjadi sarang kuman dan tempat berkembang biak vektor penyakit seperti nyamuk.
"Banjir yang surut meninggalkan lingkungan yang lembap dan genangan air. Ini merupakan kondisi ideal bagi kuman dan nyamuk untuk berkembang. Warga harus lebih waspada, terutama terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia," ujar Dini dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).
Dini menekankan pentingnya menjaga kebersihan diri (PHBS) serta kebersihan lingkungan secara mandiri. Ia juga meminta warga untuk tidak menunda kunjungan ke fasilitas kesehatan terdekat jika merasakan gejala kesehatan yang tidak biasa.
Setidaknya, terdapat empat jenis penyakit yang menjadi perhatian serius Dinkes Kota Tangerang pada fase pascabanjir ini:
1. Diare dan Gangguan Pencernaan
Penyakit ini umumnya dipicu oleh konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi bakteri. Gejala utamanya meliputi mulas, frekuensi buang air besar yang tinggi dengan konsistensi cair, hingga risiko dehidrasi. Masyarakat diminta memastikan air yang dikonsumsi telah dimasak mendidih dan menjaga kebersihan peralatan makan.
2. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Genangan air bersih yang tertahan di barang-barang bekas pascabanjir menjadi tempat favorit nyamuk Aedes aegypti bertelur. Gejala DBD ditandai dengan demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, serta munculnya bintik merah pada kulit. Upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan menguras dan menutup tempat penampungan air menjadi langkah pencegahan utama.
3. Penyakit Kulit dan Infeksi Jamur
Kontak langsung dengan air banjir yang kotor dan lumpur sering kali menyebabkan gatal-gatal hingga infeksi kulit. Sebagai langkah antisipasi, warga disarankan untuk segera mandi menggunakan sabun dan air bersih setelah beraktivitas di area yang sempat terendam banjir.
4. Leptospirosis
Penyakit ini tergolong berbahaya karena disebabkan oleh bakteri Leptospira yang tersebar melalui urine hewan (terutama tikus) yang bercampur dengan air banjir atau tanah. Gejalanya menyerupai flu, disertai nyeri otot betis dan muntah. Warga diimbau menggunakan alas kaki atau sepatu bot saat membersihkan sisa banjir guna menghindari kontak langsung dengan air yang terkontaminasi.
"Kunci utamanya adalah percepatan pembersihan lingkungan dan penguatan imunitas tubuh. Jika ada keluhan, segera manfaatkan layanan di Puskesmas terdekat agar segera mendapat penanganan medis," pungkas Dini.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media