Pendidikan . 12/02/2026, 20:28 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Hampir seluruh kampus di Indonesia belum ramah bagi dosen penyandang disabilitas. Fakta itu terungkap dari survei yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan University of Nottingham terhadap 59 dosen penyandang disabilitas dari 26 perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.
Dari survei itu juga terungkap, tidak sedikit dari kampus-kampus tempat dimana mereka bekerja masih jauh dari kata ramah untuk disabilitas.
Di berbagai fasilitas kampus-kampus masih ditemui tangga yang curam tanpa lift, toilet sempit, hingga gedung bertingkat yang mustahil diakses kursi roda.
Menurut Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM, Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., selaku Ketua Tim Peneliti, dari survei ini menemukan bahwa banyak dari dosen penyandang disabilitas ini mengalami kecemasan berlebih, mood yang naik-turun, hingga kelelahan berpikir.
“Kondisi ini bukan karena mereka malas, tapi energi mereka habis untuk menaklukkan hambatan lingkungan sebelum sempat mengajar,” ujar Wuri di Kampus UGM, Selasa, 10 Februari 2026.
Wuri juga menjelaskan, dampak kondisi kampus yang tidak ramah untuk dosen disabilitas ini cukup mempengaruhi terhadap produktivitas dan perjalanan karir akademik.
“Pada akhirnya mereka takut bermimpi naik jabatan, hingga ragu untuk lanjut sekolah S3,” ucapnya.
Dengan kondisi kampus yang belum ramah disabilitas ini, menurut Wuri menjadikan dosen mengalami hambatan dalam memenuhi target dan tuntutan untuk mengajar, meneliti, mengabdi.
Dijelaskan pula, hasil survei ini dibahas dalam sebuah forum strategis yang didanai oleh British Council melalui skema Going Global Partnership 2025 di Hotel Tara, Yogyakarta selama 2 hari, 4-5 Februari 2026 lalu.
Di bawah program bertajuk Shining a Light on Unheard Voices of Disabled Researchers (SHINE), UGM berkolaborasi dengan University of Nottingham, Inggris, menggelar forum strategis yang didanai oleh British Council melalui skema Going Global Partnership 2025.
Pada puncak kegiatan ini, sebanyak 16 dosen disabilitas menyepakati terbentuknya wadah perjuangan bersama bernama Asosiasi Dosen Disabilitas Indonesia (ADDI).
“Harapannya melalui asosiasi yang dibangun dapat lebih mendorong kebijakan inklusif kepada pemerintah dan kampus. Mereka ingin memastikan ada akomodasi yang layak,” imbuhnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media