Pendidikan . 21/02/2026, 18:02 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Nama Dwi Sasetyaningtyas mendadak menjadi sorotan publik setelah video yang diunggahnya di media sosial memicu kontroversi.
Dalam video tersebut, ia memperlihatkan paspor Inggris milik anaknya dan menyebut ingin anak-anaknya memiliki “paspor kuat WNA”.
Pernyataan itu langsung memancing reaksi keras warganet. Dwi diketahui merupakan alumni penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sehingga publik menilai ucapannya tidak sejalan dengan semangat nasionalisme dan komitmen terhadap negara.
Polemik ini pun berkembang luas. Tak hanya soal unggahan pribadi, tetapi juga menyentuh isu besar seperti nasionalisme, tanggung jawab penerima beasiswa negara, hingga fenomena brain drain atau perpindahan talenta ke luar negeri.
Kronologi Video Viral
Video yang diunggah melalui akun pribadi Dwi memperlihatkan dokumen kewarganegaraan Inggris milik anaknya. Dalam rekaman tersebut, ia menyampaikan kebahagiaan sebagai orang tua dan mengungkapkan harapan agar anak-anaknya memiliki paspor asing yang dianggap lebih kuat.
Potongan kalimat “cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan” menjadi bagian yang paling disorot.
Banyak warganet menilai pernyataan tersebut terkesan merendahkan paspor Indonesia dan tidak mencerminkan kebanggaan sebagai warga negara.
Sebagai alumni LPDP, yang pendidikannya dibiayai dari dana publik, Dwi dinilai memiliki tanggung jawab moral lebih besar dalam menjaga citra dan semangat kebangsaan. Kritik pun mengalir deras di berbagai platform media sosial.
Tak lama setelah polemik mencuat, video tersebut dihapus. Namun, potongan rekamannya sudah telanjur tersebar luas dan menjadi bahan diskusi publik.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf Terbuka
Menanggapi gelombang kritik, Dwi Sasetyaningtyas menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial. Ia mengakui bahwa pernyataannya menimbulkan kegaduhan dan melukai perasaan banyak pihak.
Dalam pernyataan tertulisnya, ia menegaskan bahwa ucapannya lahir dari rasa kecewa dan frustrasi pribadi sebagai warga negara, bukan bentuk kebencian terhadap Indonesia.
Ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung dan mengakui kesalahan dalam pemilihan kata serta penyampaian di ruang publik. Dwi juga menegaskan bahwa ia tetap bangga menjadi WNI dan mencintai Indonesia.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media