Nasional . 24/02/2026, 21:10 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Geger! Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi anak-anak sekolah justru berujung polemik panas. Setelah sempat bungkam dan menjadi bulan-bulanan netizen di berbagai platform media sosial, Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya tidak bisa lagi mengelak. Instansi yang baru seumur jagung ini blak-blakan mengakui bahwa ada praktik "asal-asalan" di dapur pengelola yang memicu kegaduhan publik selama bulan Ramadan ini.
Fenomena ini mencuat setelah foto dan video menu yang dianggap tak layak konsumsi viral dan memicu kemarahan masyarakat. Bayangkan saja, anak-anak sekolah dilaporkan menerima roti yang teksturnya sekeras batu hingga telur setengah matang yang tentu saja berbahaya bagi kesehatan. Kondisi ini membuat publik bertanya-tanya, kemana standar kualitas yang selama ini dijanjikan pemerintah?
BGN akhirnya membedah borok di internal mereka sendiri. Berdasarkan rapat internal darurat yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala BGN, Sony Sanjaya, terungkap fakta pahit bahwa manajemen di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bekerja di luar kendali standar yang ditetapkan. Beberapa unit dapur pengelola terbukti bertindak ceroboh, mulai dari pemilihan bahan baku menu hingga estimasi waktu distribusi yang amburadul.
Ketidaksiapan unit dapur dalam menghadapi skala distribusi besar nampaknya menjadi akar masalah. Ketidaktelitian dalam mengolah hidangan bukan hanya merugikan anggaran negara, tetapi juga mempertaruhkan kesehatan para siswa yang menjadi sasaran utama program strategis ini. Pemerintah kini berada di posisi terjepit untuk segera membereskan manajemen dapur mitra mereka.
"BGN menyadari betul, memang ada dapur di SPPG ini yang ceroboh. Kita harus introspeksi," ujar Fariz Alaudin selaku Kepala SPPG Dapoer Rahayu, Selasa 24 Februari 2026. Pernyataan jujur ini seolah membenarkan kekhawatiran masyarakat selama ini bahwa pengawasan di lapangan memang masih sangat lemah.
Meski mengakui adanya kesalahan fatal yang memalukan, pihak BGN meminta masyarakat memahami posisi mereka sebagai lembaga yang masih sangat baru. Rentetan insiden menu "tak manusiawi" ini diklaim akan menjadi bahan evaluasi besar-besaran untuk menyaring mitra pengelola dapur. BGN berjanji akan lebih ketat dalam memilih pihak ketiga agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Fariz Alaudin menekankan bahwa setiap isu viral yang muncul di media sosial menjadi alarm keras bagi jajarannya. Pihak BGN kini menuntut para Kepala SPPG di seluruh Indonesia untuk lebih peka dan reaktif terhadap setiap keluhan yang muncul dari masyarakat. Tidak ada lagi ruang untuk keteledoran jika ingin program ini tetap mendapat kepercayaan publik.
"Kami sadar ini badan baru yang butuh banyak perbaikan. Setiap ada berita viral, kami langsung arahkan Kepala SPPG untuk lebih peka terhadap isu di masyarakat," lanjut Fariz. Langkah ini diambil guna memastikan standar gizi dan kelayakan makanan benar-benar sampai ke tangan anak-anak tanpa cacat sedikit pun.
Tantangan terbesar BGN saat ini adalah membuktikan bahwa pengakuan dosa ini diikuti dengan aksi nyata. Pengawasan berlapis mulai dari pemilihan bahan makanan di dapur hingga proses pengantaran harus menjadi prioritas utama. Publik kini menunggu apakah BGN berani memutus kontrak dengan dapur-dapur ceroboh yang telah merusak citra program ini.
Jangan sampai program mulia untuk meningkatkan kualitas gizi bangsa justru tercoreng oleh oknum pengelola yang hanya mengejar keuntungan tanpa mempedulikan kelayakan menu. Kini, bola panas ada di tangan BGN untuk membuktikan integritas mereka sebagai penjaga gizi nasional.
Gimana menurut kamu? Apakah permintaan maaf dan pengakuan BGN ini sudah cukup? Atau perlu ada sanksi yang lebih berat bagi pengelola dapur yang ceroboh? Tulis pendapat kamu di kolom komentar ya! - Hasyim Ashari/Disway -
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media