Internasional . 25/02/2026, 06:14 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Lebih dari 150 pesawat tempur Negeri Paman Sam dilaporkan telah disiagakan di berbagai titik strategis di Eropa dan Timur Tengah.
Laporan tersebut diungkapkan oleh The Washington Post pada Selasa 24 Februari, menyusul pergerakan militer besar-besaran yang terekam melalui citra satelit dan data penerbangan dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan citra satelit yang diambil Jumat 20 Februari lalu, lebih dari 60 pesawat tempur Amerika Serikat terlihat berada di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania. Di antara armada tersebut terdapat sekitar selusin jet tempur siluman F-35 yang dikenal sebagai salah satu andalan tempur paling canggih milik AS.
Tak hanya itu, data penerbangan menunjukkan Washington telah mengerahkan lebih dari sepertiga armada pesawat pengintai E-3G Sentry ke kawasan Eropa dan Timur Tengah. Pergerakan ini dinilai sebagai langkah antisipatif di tengah meningkatnya suhu politik dan militer di kawasan.
Di Yunani, aktivitas militer juga terpantau meningkat. Sejak 17 Februari, pesawat tanker serta sedikitnya satu pesawat pengintai telah bersiaga di Bandara Chania, Pulau Kreta. Rekaman video pada Sabtu (21/2) bahkan memperlihatkan tambahan 10 jet tempur F-35 yang bergabung dengan armada yang sudah lebih dulu ditempatkan di sana.
Kekuatan militer AS tak berhenti di darat. Puluhan pesawat tambahan dan sistem anti-rudal yang dilengkapi misil Tomahawk juga terlihat disiagakan di atas kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford.
Di Inggris, belasan jet tempur F-22A Raptor telah berada di Pangkalan Udara Lakenheath. Sementara itu, sekurangnya satu unit F-16 Fighting Falcon dilaporkan mendarat di Azores, wilayah otonom Portugal yang berada di Samudera Atlantik.
Menurut laporan tersebut, lebih dari setengah pesawat yang baru dikerahkan telah ditempatkan di pangkalan udara Eropa yang lokasinya berada di luar jangkauan sebagian besar rudal Iran. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk menjaga kesiapan tempur sekaligus meminimalkan risiko serangan balasan.
Situasi semakin memanas setelah The New York Times melaporkan pada Senin (23/3), mengutip sumber, bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi serangan berskala besar terhadap Iran. Opsi tersebut disebut akan diambil apabila jalur perundingan atau serangan terbatas tidak membuahkan hasil sesuai harapan Washington.
Dari pihak Teheran, respons keras langsung disampaikan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaili Baghaei, menegaskan bahwa Iran akan menganggap "serangan terbatas" AS dalam bentuk apa pun sebagai tindakan agresi.
Dengan pengerahan ratusan jet tempur, kapal induk, dan sistem persenjataan canggih di berbagai titik, dunia kini menyoroti setiap langkah Washington dan Teheran. Eskalasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah ini sekadar unjuk kekuatan, atau sinyal menuju konflik terbuka?
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media