Ekonomi . 03/03/2026, 18:00 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Kekacauan geopolitik di Timur Tengah semakin membahayakan, memicu lonjakan harga minyak dunia dan memaksa pemerintah Indonesia bertindak cepat menghadapi krisis energi nasional.
Kabar buruk datang dari Timur Tengah! Ketegangan geopolitik yang kian memanas di sana kini menyalakan alarm merah di tanah air.
Harga minyak dunia yang bergerak liar tanpa bisa diprediksi memaksa pemerintah Indonesia bergerak cepat.
Mereka harus segera mengantisipasi potensi krisis energi nasional yang bisa menghantam kapan saja.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah tidak ingin terjebak dalam ketidakpastian konflik yang berpotensi berlangsung lama.
Ia menambahkan bahwa situasi global saat ini sangat sulit untuk diprediksi.
Berdasarkan kajian mendalam yang melibatkan intelijen dan komunikasi intensif dengan berbagai negara sahabat, Bahlil mengungkapkan bahwa belum ada kepastian kapan ketegangan ini akan berakhir.
"Sekalipun informasi disampaikan bahwa ketegangan ini akan selesai dalam waktu, ada yang mengatakan lima hari, ada yang mengatakan empat minggu, tapi keyakinan kami setelah kami melakukan kajian ini tidak akan bisa kita ramalkan kapan selesai," ujar Bahlil dalam keterangan pers di Kantor Kementerian ESDM pada Selasa, 3 Maret 2026.
Alih-alih hanya menunggu kepastian, pemerintah Indonesia memilih untuk mengambil langkah antisipatif dengan mengasumsikan skenario terburuk, yaitu konflik akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Strategi mitigasi utama yang mereka ambil adalah melakukan pengalihan sumber impor minyak mentah atau *crude*.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media