Internasional . 03/03/2026, 20:29 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke Iran bukan hanya berdampak pada Teheran, tetapi juga menyeret kelompok Hizbullah di Lebanon kembali ke pusaran konflik bersenjata.
Pejabat senior Hizbullah menyatakan bahwa serangan Israel terbaru membuat kelompok tersebut merasa tidak memiliki pilihan selain kembali melakukan perlawanan bersenjata.
“Kalau Israel mau perang terbuka, biarlah ini menjadi perang terbuka. Era kesabaran telah berakhir,” kata Mahmoud Qmati seperti dilansir Al Jazeera.
Hizbullah kembali menembakkan roket ke arah Israel sebagai reaksi atas serangan AS-Israel yang disebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei, di Teheran. Aksi tersebut langsung dibalas dengan agresi udara Israel ke wilayah Lebanon yang dilaporkan menewaskan lebih dari 50 orang.
Kelompok Hizbullah menegaskan bahwa agresi Israel yang berlangsung selama 15 bulan terakhir tidak dapat dibiarkan tanpa respons. Mereka menyebut konfrontasi sebagai hak yang sah dan defensif dalam menghadapi pelanggaran yang terus terjadi.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menyebut serangan Israel terhadap Lebanon terus berlangsung melalui pembunuhan, penghancuran, hingga pembuldoseran wilayah, meskipun telah ada upaya diplomatik berulang untuk mempertahankan gencatan senjata yang disepakati pada November 2024.
Presiden Lebanon Larang Aktivitas Militer Hizbullah
Di tengah eskalasi tersebut, pemerintah Lebanon mengambil langkah tegas. Presiden Joseph Aoun menyatakan keputusan kabinet untuk melarang seluruh aktivitas militer Hizbullah bersifat final.
Ia menegaskan tidak ada jalan mundur dari keputusan tersebut. Pemerintah mewajibkan Hizbullah menyerahkan senjatanya kepada negara, sekaligus menegaskan bahwa keputusan perang dan damai sepenuhnya berada di tangan Beirut.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Aoun menyebut langkah itu sebagai upaya menjaga hak negara Lebanon untuk memegang kendali penuh atas keputusan perang dan perdamaian.
Namun, keputusan ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana pemerintah akan menegakkannya di lapangan? Hizbullah telah memperingatkan bahwa upaya pelucutan senjata, khususnya di utara Sungai Litani, dapat memicu masalah internal.
Israel Perluas Operasi Militer
Sementara itu, dari pihak Israel, Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan telah menginstruksikan militer untuk mengambil kendali lebih banyak posisi di Lebanon.
Ia menyebut dirinya bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menyetujui langkah militer untuk merebut wilayah tambahan guna mencegah penembakan terhadap permukiman perbatasan Israel.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media