Ekonomi . 06/03/2026, 23:39 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Ketegangan di Timur Tengah kini mencapai titik nadir. Penutupan akses Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Amerika-Israel dengan Iran bukan sekadar kabar burung, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas energi global. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi sinyal bahaya (early warning) yang tidak bisa dianggap enteng karena kita masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia.
Publik mulai resah. Obrolan di warung kopi hingga kegelisahan di media sosial mencerminkan kekhawatiran yang sama: akankah Indonesia mengalami kelangkaan BBM? Kekhawatiran ini cukup beralasan jika melihat data cadangan energi nasional yang sangat tipis.
Fakta di lapangan memang membuat publik patut waspada. Menteri ESDM mengungkap bahwa cadangan BBM nasional kita saat ini hanya mampu bertahan selama 21 hari. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang yang memiliki stok cadangan hingga 254 hari, atau Korea Selatan dengan 208 hari. Bahkan, negara tetangga India masih sedikit lebih unggul dengan cadangan 25 hari.
Tulus Abadi, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia, menegaskan bahwa pemerintah harus berhenti memberikan janji-janji manis kepada publik. Memberikan pernyataan bahwa harga BBM tidak akan naik saat kondisi geopolitik sedang tidak menentu justru dianggap kontraproduktif.
"Pemerintah jangan memberikan pernyataan yang sifatnya janji angin surga, jangan meninabobokan publik. Pemerintah harus memberikan pernyataan publik yang mencerdaskan dan memberdayakan," ujar Tulus, dalam keterangannya, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menambahkan, narasi kejujuran mengenai kerumitan rantai pasok BBM harus disampaikan dengan jelas. Kebutuhan nasional kita mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara kemampuan produksi dalam negeri tidak mencapai 750 ribu barel per hari. Artinya, setiap liter BBM yang kita pakai melewati proses bisnis yang sangat kompleks dan mahal.
Dalam kondisi force majeure seperti ini, pemerintah dituntut untuk segera mengambil langkah taktis. Tulus menyarankan pemerintah untuk segera memiliki exit strategy yang komprehensif. Ada dua opsi utama yang bisa diambil untuk mengendalikan konsumsi BBM di masyarakat:
Memangkas kuota menjadi 50 liter per hari, misalnya, dinilai jauh lebih solutif daripada menaikkan harga yang berpotensi memicu inflasi dan beban ekonomi bagi masyarakat kelas bawah.
Di luar kebijakan pemerintah, masyarakat juga harus mulai sadar bahwa era energi murah akan segera berakhir. BBM adalah energi fosil yang cadangannya terus menipis dan merupakan salah satu penyebab utama krisis iklim global. Mengubah pola konsumsi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Ketegasan pemerintah dalam mengambil kebijakan strategis, dikombinasikan dengan kesadaran masyarakat dalam menggunakan BBM secara bijak, menjadi kunci utama untuk melewati badai krisis energi ini. Waktu terus berjalan, dan pemerintah perlu bertindak cepat sebelum cadangan 21 hari kita habis terkuras di tengah ketidakpastian dunia. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media