Ekonomi . 12/03/2026, 15:22 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Ketua Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Said Abdullah meminta masyarakat Indonesia tidak perlu panik menghadapi berbagai dinamika ekonomi global yang terjadi belakangan ini.
Menurutnya, kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2026 masih berada dalam posisi yang relatif aman. Salah satu indikatornya terlihat dari harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price yang hingga kini masih berada di bawah asumsi makro dalam APBN.
"Percayalah, kalau melihat asumsi makro dan postur APBN kita di tahun ini, tahun 2026, harga ICP kita, kalau dihitung dari Januari sampai 9 Maret, itu sekitar rata-rata masih di bawah asumsi makro kita. Sehingga kita itu sebenarnya tidak perlu gaduh, tidak perlu menjadi bangsa kagetan," kata Said di Kompleks Parlemen, Kamis, 12 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa dinamika ekonomi yang ramai diperbincangkan sejak akhir Januari dipicu oleh berbagai faktor eksternal. Beberapa di antaranya berasal dari penilaian lembaga keuangan internasional serta situasi geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah.
“Di tengah berbagai terpaan yang menimpa kita, dimulai oleh MSCI di sektor keuangan. Habis itu Goldman Sachs, belum berhenti muncul lagi modis tentang peringkat utang kita yang dari stabil menjadi negatif, terakhir fisretik," ujar dia.
"Belum cukup, tiba-tiba di negara-negara teluk terjadi perang yang dipaksakan oleh Israel dan pelayannya, katanya pelayannya Amerika. Iran dibombardir, pembunuhan kemangsaan yang luar biasa," sambungnya.
Politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut menilai konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memicu efek rambatan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Meski demikian, Said menegaskan bahwa pemerintah bersama otoritas keuangan telah mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Sejak awal kita sudah mulai berbenah. Otoritas Jasa Keuangan bersama Bursa Efek Indonesia juga sudah melakukan komunikasi yang intensif untuk menjaga stabilitas pasar,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa jika melihat asumsi makro dalam APBN 2026, kondisi perekonomian nasional sejauh ini masih berada dalam batas yang terkendali.
Namun demikian, Said mengakui adanya tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dapat berdampak pada defisit anggaran negara.
Ia menjelaskan bahwa setiap pelemahan nilai tukar sebesar Rp100 terhadap dolar AS berpotensi menambah defisit APBN sekitar Rp800 miliar.
"Memang ada ikutan pelemahan atau depresiasi rupiah yang setiap 100 perak itu langsung efeknya 800 miliar terhadap defisit kita. Kemudian ketika peringkat utang kita outlooknya, dari sebagaimana kita ketahui, dari stabil ke negatif, walaupun peringkatnya tetap tidak berubah, kita nunggu bulan Mei," imbuhnya.
Anisha Aprilia/Disway
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media