Megapolitan . 15/03/2026, 08:08 WIB

Jakarta Terasa Membara: BMKG Ungkap Alasan Ibu Kota Makin Terik Jelang April

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

fin.co.id – Warga Jakarta dan sekitarnya mengeluhkan suhu udara yang terasa jauh lebih panas dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi fenomena ini dan membeberkan sejumlah faktor atmosfer yang menjadi penyebab utamanya.

Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa panas terik ini terjadi akibat radiasi matahari yang sangat kuat. Saat ini, tutupan awan pada siang hari cenderung tidak merata, sehingga sinar matahari langsung menghujam permukaan bumi tanpa penghalang.

"Kondisi udara yang terasa lebih panas belakangan ini umumnya dipengaruhi oleh penyinaran matahari yang cukup kuat dan tutupan awan pada siang hari yang tidak merata," ujar Ida, Sabtu 14 Maret 2026.

Karakteristik Masa Pancaroba

Ida menambahkan, situasi ini merupakan ciri khas masa peralihan musim atau pancaroba. Pada fase ini, masyarakat akan merasakan cuaca yang sangat terik dari pagi hingga siang hari, namun masih ada potensi hujan lokal pada sore atau malam hari.

Selain faktor transisi cuaca, BMKG juga memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal di sebagian besar wilayah Indonesia. Sekitar 16,3 persen wilayah diprediksi masuk kemarau pada April mendatang, disusul Mei dan Juni. Wilayah Nusa Tenggara menjadi pembuka, yang kemudian merambat secara bertahap ke wilayah lain, termasuk Pulau Jawa.

Bukan Sekadar Kemarau Dini

Meski kemarau diprediksi maju, Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menekankan bahwa panasnya Jakarta saat ini bukan semata-mata karena awal kemarau. Ada faktor gerak semu matahari yang sedang memainkan peran penting.

"Cuaca panas di Jakarta belakangan ini dipengaruhi kombinasi faktor atmosfer. Setelah hujan lebat beberapa hari lalu, langit menjadi sangat cerah sehingga radiasi matahari terasa lebih terik tanpa penghalang awan," jelas Guswanto.

Lebih lanjut, Guswanto memaparkan bahwa posisi matahari saat ini sedang bergerak ke arah utara dari garis khatulistiwa. Kondisi ini membuat wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, termasuk Jakarta, menerima paparan sinar matahari yang lebih tegak lurus pada siang hari.

"Lintasan gerak semu matahari ini menentukan intensitas radiasi. Itulah yang membuat cuaca terasa sangat menyengat meski kita belum masuk sepenuhnya ke musim kemarau," tambahnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga hidrasi tubuh dan mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari saat matahari berada di titik tertinggi. Meski cuaca cerah mendominasi, potensi hujan sedang hingga lebat masih mungkin terjadi di beberapa titik akibat dinamika cuaca lokal.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com