Megapolitan . 23/03/2026, 21:03 WIB
Penulis : Rikhi Ferdian Herisetiana | Editor : Rikhi Ferdian Herisetiana
fin.co.id - Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memastikan kualitas lingkungan di sekitar kawasan industri Taman Tekno BSD berangsur pulih. Fokus utama pengawasan kini tertuju pada Sungai Jaletreng yang sempat terdampak limpasan residu bahan kimia pasca-kebakaran gudang pestisida milik PT Biotek Saranatama, pertengahan Februari lalu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan, Bani Khosyatullah, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan rangkaian uji laboratorium yang komprehensif. Pemantauan ini mencakup kualitas air permukaan, udara ambien, hingga tingkat kebauan guna memetakan dampak lingkungan secara menyeluruh.
"Kami mengambil sampel dari berbagai kompartemen untuk mendapatkan gambaran utuh pasca-insiden. Fokus kami adalah memastikan tidak ada dampak jangka panjang yang merugikan ekosistem maupun masyarakat," ujar Bani, dikutip Senin (23/3/2026).
Berdasarkan hasil analisa laboratorium terhadap sampel air yang diambil sejak 9 Februari 2026, sempat ditemukan lonjakan beban pencemar yang signifikan pada fase awal. Parameter utama seperti Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) tercatat meningkat tajam, dibarengi dengan kadar pH yang turun drastis (asam) di bawah baku mutu sesuai PP Nomor 22 Tahun 2021.
Kondisi tersebut diduga kuat berasal dari limpasan air pemadaman kebakaran yang membawa residu pestisida masuk ke badan air. Namun, Bani menekankan bahwa penurunan kualitas air ini bersifat episodik atau sementara.
"Hasil pemantauan menunjukkan pola pencemaran yang menurun ke arah hilir hingga Sungai Cisadane. Terjadi proses pengenceran alami (natural dilution) sepanjang aliran sungai yang membantu menekan konsentrasi zat kimia tersebut," lanjutnya.
Sebagai langkah cepat untuk menetralisir residu organik, DLH Tangsel melakukan intervensi pada 12 Februari 2026 dengan menebar material adsorptif dan biodegradatif di Sungai Jaletreng. Penggunaan arang aktif, karbon, hingga eco-enzyme terbukti efektif mempercepat perbaikan kualitas air.
"Material ini membantu mengikat senyawa kimia dan mempercepat proses penguraian secara alami. Hasilnya, pemantauan lanjutan menunjukkan tren perbaikan yang konsisten," tambah Bani.
Berbeda dengan kondisi air, kualitas udara ambien di area terdampak relatif stabil. Pengujian di tiga titik utama—yakni sisi up wind, area lokasi kejadian, dan down wind—menunjukkan parameter yang masih berada di bawah ambang batas baku mutu.
Demikian pula dengan tingkat kebauan. Berdasarkan Kepmen LH Nomor 50 Tahun 1996, parameter seperti amonia dan hidrogen sulfida tidak menunjukkan adanya gangguan bau yang signifikan di lingkungan sekitar.
Meski kondisi mulai stabil, DLH Kota Tangerang Selatan menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) untuk pengawasan jangka panjang.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media