Internasional . 27/03/2026, 10:10 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Republik Islam Iran menetapkan aturan sangat ketat di Selat Hormuz, jalur urat nadi energi global. Teheran hanya mengizinkan kapal-kapal dari negara yang dianggap sebagai sahabat untuk melintas.
Keputusan provokatif ini diambil sebagai respons atas agresi militer yang terus meningkat di kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan wilayah kedaulatan maritim tidak akan lagi terbuka bagi pihak-pihak yang memusuhi Teheran.
Dalam keterangannya yang disiarkan oleh saluran televisi Al Mayadeen, Araghchi merinci daftar negara yang masih diberikan akses eksklusif melewati jalur strategis tersebut.
"Kami telah memberikan izin bagi kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melintasi Selat Hormuz. Kami tidak punya alasan untuk memberikan karpet merah bagi kapal-kapal musuh," tegas Abbas Araghchi.
Salah satu negara sahabat yang dimaksud adalah Indonesia. Pernyataan ini secara otomatis memperketat blokade de facto terhadap kapal-kapal milik Amerika Serikat, Israel, dan sekutu Barat lainnya yang selama ini mengandalkan jalur untuk distribusi energi.
Eskalasi ini merupakan buntut panjang dari serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan tersebut tidak hanya merusak fasilitas strategis, tetapi juga menimbulkan korban sipil, yang kemudian memicu aksi balas dendam Iran terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Blokade Selat Hormuz kini menjadi senjata ekonomi paling mematikan milik Teheran. Mengingat seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati selat sempit ini, penutupan akses bagi negara-negara Barat telah mengacaukan rantai pasok global.
Dunia mulai merasakan perihnya dampak blokade ini. Terhentinya pengiriman dari produsen besar di Teluk Persia telah menyebabkan:
Krisis ini menunjukkan betapa rentannya ekonomi global terhadap stabilitas di Selat Hormuz. Jika ketegangan tidak segera mereda, dunia mungkin harus bersiap menghadapi krisis energi paling parah dalam dekade ini.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media