Internasional . 27/03/2026, 10:21 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id - Gelombang desakan agar Republik Islam Iran segera mengundurkan diri dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) kini menguat di Teheran. Keanggotaan dalam perjanjian internasional tersebut dinilai tidak memberikan manfaat nyata bagi pengembangan energi nuklir damai Iran, melainkan justru menjadi celah spionase bagi pihak Barat dan Israel.
Selama ini, Iran tetap setia menjadi anggota NPT, sementara negara dengan kekuatan militer besar seperti Israel tidak pernah bergabung dan luput dari tekanan internasional. Iran bahkan sempat menerima Protokol Tambahan dalam berbagai kesepakatan, termasuk JCPOA, demi menunjukkan transparansi program nuklirnya kepada dunia.
Namun, keterbukaan tersebut dianggap menjadi bumerang. Teheran mencurigai informasi yang dikumpulkan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sering kali disalahgunakan oleh Amerika Serikat dan Israel untuk melakukan kegiatan spionase dan sabotase fasilitas nuklir.
Ketegangan semakin memuncak menyusul pernyataan Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, yang dinilai provokatif oleh pihak Teheran. Grossi secara implisit menyebutkan bahwa serangan atom dapat menghancurkan seluruh fasilitas nuklir Iran, sebuah pernyataan yang dianggap Iran sebagai bentuk "lampu hijau" bagi agresi militer.
"Sangat memuakkan melihat Direktur Jenderal IAEA bertindak seolah-olah menjadi alat kepentingan Amerika Serikat dan rezim Israel," ungkap sumber resmi di Teheran. Kondisi ini memperkuat argumen bahwa NPT bukan lagi alat pendukung energi damai, melainkan instrumen politik untuk melucuti hak kedaulatan Iran.
Sentimen anti-NPT di Iran juga didasari oleh pernyataan lama David Albright, pakar nuklir Amerika Serikat, yang pernah menyebut inspektur IAEA di lapangan bertindak layaknya "pasukan infanteri" bagi kepentingan Washington. Hal ini memperkuat keyakinan Teheran bahwa pengawasan nuklir internasional selama ini lebih bersifat politis daripada teknis.
Meski muncul desakan untuk keluar dari NPT, Iran secara konsisten menyatakan tetap berkomitmen pada pengembangan nuklir untuk tujuan damai. Namun, mereka tidak lagi melihat alasan untuk bertahan dalam perjanjian yang dianggap hanya memfasilitasi musuh untuk melumpuhkan program nuklir nasional melalui jalur intelijen.
Jika Iran benar-benar memutuskan untuk hengkang dari NPT, hal ini diprediksi akan mengubah peta konstelasi keamanan global secara drastis dan memicu ketegangan baru yang lebih besar dengan negara-negara kekuatan nuklir lainnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media