Internasional . 27/03/2026, 15:12 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah pakar militer sekaligus mantan kepala badan intelijen eksternal India, A.S. Dulat, menyatakan bahwa Amerika Serikat saat ini belum siap melakukan invasi darat ke Iran.
Dalam wawancara bersama Salman Khurshid di program RT India, Dulat menegaskan bahwa langkah invasi darat bukan hanya persoalan strategi militer, tetapi juga menyangkut faktor politik domestik di AS.
“Begitu Anda menempatkan pasukan di lapangan, itu berarti Anda harus siap menerima peti mati yang kembali. Itu tidak akan disukai oleh publik Amerika,” ujarnya.
Pernyataan Dulat mencerminkan realitas politik di Amerika Serikat, di mana setiap keputusan perang besar selalu mendapat pengawasan ketat dari publik.
Pengalaman panjang dari perang di Irak dan Afghanistan membuat masyarakat Amerika semakin sensitif terhadap potensi korban jiwa.
Invasi darat ke Iran diperkirakan akan:
Menimbulkan korban besar di pihak militer AS
Memicu gelombang penolakan publik
Menjadi beban politik bagi pemerintahan Donald Trump
Dengan kondisi tersebut, opsi serangan darat dinilai sebagai langkah berisiko tinggi yang belum tentu mendapat dukungan luas.
Dalam wawancara tersebut, Dulat juga menyinggung dugaan keterlibatan badan intelijen global dalam eskalasi konflik.
Ia menyebut kemungkinan peran CIA yang berkoordinasi dengan Mossad dalam operasi terhadap pemimpin Iran, Ali Khamenei, pada akhir Februari.
Meski belum ada konfirmasi resmi, pernyataan ini memperlihatkan kompleksitas konflik yang tidak hanya melibatkan militer terbuka, tetapi juga operasi intelijen tingkat tinggi.
Dulat menilai Iran tidak bisa diremehkan. Ia bahkan menyebut Teheran telah menyiapkan skenario perang jangka panjang, termasuk sistem suksesi kepemimpinan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media