Ekonomi . 24/04/2026, 10:28 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Maskapai nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menunjukkan sinyal pemulihan keuangan yang cukup menjanjikan pada awal tahun ini. Meski belum berhasil mencetak laba, perusahaan berkode saham GIAA ini sukses menekan angka kerugian secara signifikan sepanjang kuartal I 2026 jika kita bandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan resmi perseroan, Garuda mencatatkan rugi bersih sebesar 46,48 juta dolar AS atau sekitar Rp803,4 miliar (dengan asumsi kurs Rp17.285). Angka ini turun drastis dari beban rugi bersih tahun sebelumnya yang sempat menyentuh 76,49 juta dolar AS atau setara Rp1,3 triliun. Penurunan rugi hingga ratusan miliar ini mengindikasikan adanya efisiensi dan perbaikan strategi bisnis di tengah dinamika industri penerbangan.
Sejalan dengan penyusutan rugi, pendapatan usaha Garuda Indonesia juga mengalami pertumbuhan positif. Perseroan berhasil meraup pendapatan sebesar 762,35 juta dolar AS atau setara Rp13,17 triliun. Perolehan tersebut melampaui capaian kuartal I tahun lalu yang berada di angka 723,56 juta dolar AS.
Sektor penerbangan berjadwal masih menjadi tulang punggung utama pendapatan perusahaan dengan kontribusi mencapai 648,10 juta dolar AS atau sekitar Rp11,2 triliun. Sementara itu, lini penerbangan tidak berjadwal ikut menyumbang pendapatan sebesar 24,98 juta dolar AS. Pertumbuhan tipis ini menunjukkan bahwa permintaan pasar terhadap layanan reguler Garuda masih sangat stabil.
Meskipun pendapatan tumbuh, manajemen Garuda masih harus berhadapan dengan beban usaha yang cukup besar. Sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026, total beban usaha tercatat mencapai 713,22 juta dolar AS atau sekitar Rp12,3 triliun. Komponen biaya operasional penerbangan menjadi pengeluaran terbesar dengan serapan dana mencapai 350,24 juta dolar AS atau berkisar Rp6 triliun.
Dari sisi kesehatan neraca, hingga akhir Maret 2026, emiten maskapai pelat merah ini mengantongi total aset sebesar 7,5 miliar dolar AS. Di sisi lain, kewajiban atau total liabilitas perusahaan berada di angka 7,4 miliar dolar AS dengan posisi ekuitas sebesar 68,25 juta dolar AS. Kondisi ini menggambarkan bahwa Garuda tengah berupaya keras menjaga keseimbangan antara kewajiban utang dan penguatan modal di tengah proses transformasi yang sedang berjalan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media