fin.co.id -
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Iran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal milik Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab pada Senin (4/5/2026).
Situasi ini memicu kekhawatiran global, termasuk dari Arab Saudi yang menyerukan penahanan diri dan penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Kementerian Pertahanan UEA melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat sejumlah ancaman serius, termasuk 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone yang diluncurkan dari wilayah Iran.
Meski sebagian besar berhasil ditangkal, insiden tersebut tetap menyebabkan tiga orang mengalami luka sedang.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat mengungkapkan bahwa dua kapal dagang berbendera AS berhasil melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya menjaga jalur pelayaran internasional tetap aman.
Namun, ketegangan meningkat setelah Iran juga dilaporkan menargetkan kapal Angkatan Laut AS, yang kemudian dibalas dengan penghancuran enam perahu kecil milik Iran.
Arab Saudi Serukan De-eskalasi
Menanggapi situasi tersebut, Arab Saudi menyatakan keprihatinan mendalam. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Saudi menegaskan pentingnya semua pihak menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut.
Putra Mahkota Mohammed bin Salman juga mengecam keras serangan Iran terhadap UEA. Dalam percakapan dengan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed, ia menegaskan dukungan penuh Arab Saudi terhadap keamanan dan kedaulatan negara tetangganya tersebut.
Arab Saudi turut mendukung upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan dan menekankan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.
Serangan Iran ini juga memicu kecaman dari berbagai negara dan organisasi internasional. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi menyebut serangan tersebut sebagai tindakan brutal. Negara seperti Bahrain juga menilai eskalasi ini berbahaya dan mengancam stabilitas kawasan.
Negosiasi Mandek, Ketegangan Berlanjut
Ketegangan semakin kompleks setelah negosiasi antara Washington dan Teheran mengalami kebuntuan sejak gencatan senjata pada awal April 2026.
Upaya damai yang dimediasi Pakistan belum menghasilkan kesepakatan konkret, terutama terkait kontrol Iran atas Selat Hormuz.
Bahkan, mantan Presiden AS Donald Trump disebut telah memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu baru, sambil tetap mendorong operasi militer untuk mengamankan jalur pelayaran.
Kondisi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai titik krusial yang berpotensi memicu konflik lebih luas. Gangguan di jalur ini dapat berdampak langsung pada distribusi energi global dan stabilitas ekonomi dunia.
Dengan situasi yang terus memanas, dunia kini menanti langkah konkret dari para pemimpin global untuk meredakan konflik dan mencegah eskalasi yang lebih besar di kawasan Timur Tengah. (*)