Ekonomi . 06/05/2026, 11:26 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan I 2026 dapat melampaui 5,5 persen. Sejumlah indikator menunjukkan capaian tersebut berada di jalur yang positif meski di tengah dinamika global.
Dalam keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, realisasi investasi pada Triwulan I 2026 tercatat mencapai Rp498,79 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Sementara itu, belanja modal pemerintah pusat juga meningkat signifikan sebesar 36,7 persen menjadi Rp35,42 triliun.
Kinerja sektor manufaktur turut memperkuat optimisme. Indeks Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di zona ekspansi sepanjang Januari hingga Maret 2026, masing-masing di level 52,6, 53,8, dan 50,1. Selain itu, kredit investasi tumbuh pesat 20,85 persen secara tahunan menjadi Rp2.726,9 triliun.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kondisi ekonomi nasional secara umum tetap stabil di tengah tekanan global, dengan kinerja ekspor yang masih solid.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut nilai ekspor kumulatif Januari–Maret 2026 mencapai 66,85 miliar dolar AS atau meningkat 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,55 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 5,08 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 4 Mei 2026.
Di sisi lain, impor Indonesia tercatat sebesar 61,30 miliar dolar AS atau naik 10,05 persen secara tahunan. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia tetap mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Aktivitas masyarakat juga menunjukkan peningkatan. Selama tiga bulan pertama 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 319,51 juta perjalanan atau tumbuh 13,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini mencerminkan daya beli masyarakat yang masih terjaga.
Sementara itu, inflasi pada April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen secara bulanan dan 2,42 persen secara tahunan. Kenaikan tarif angkutan udara dan harga bahan bakar menjadi faktor pendorong utama.
Namun demikian, tekanan inflasi berhasil ditekan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi 0,20 persen.
“Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” tutup Ateng.
Secara keseluruhan, berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tetap resilien dan mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media