Nasional . 12/05/2026, 09:07 WIB

Kemenkes Buka Suara soal Hantavirus di Kapal Pesiar Hondius, Tipe Virus Disebut Berbeda dengan di Indonesia

Penulis : Afdal Namakule  |  Editor : Afdal Namakule

fin.co.id -  Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan penjelasan terkait temuan Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan virus yang ditemukan di kapal tersebut merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), berbeda dengan jenis Hantavirus yang selama ini ditemukan di Indonesia.

Andi mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan maupun bukti penularan Hantavirus tipe HPS di Indonesia.

"HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus," kata Andi dalam konferensi pers, Senin 11 Mei 2026.

Ia menjelaskan, kasus Hantavirus secara global memang tersebar di sejumlah wilayah seperti Eropa, Amerika, dan Asia. Namun, di Indonesia jenis yang ditemukan hanya tipe HFRS.

Menurut data Kemenkes, sepanjang periode 2024 hingga 2026 tercatat terdapat 23 kasus HFRS di Indonesia tanpa adanya temuan tipe HPS seperti yang muncul di kapal pesiar Hondius.

"Virus Hanta yang ada di Indonesia itu adalah tipenya HFRS, sekali lagi berbeda dengan tipe yang terjadi di kapal pesiar Hondius," imbuhnya.

Andi juga menegaskan bahwa hingga kini belum ditemukan bukti penularan antar-manusia pada Hantavirus tipe HFRS yang beredar di Asia maupun Indonesia.

"Saya sampaikan bahwa untuk tipe HRS yang terjadi di Asia maupun Eropa, termasuk yang sudah ada kasusnya sejak tahun 1991 di Indonesia, itu belum ada bukti terjadi penularan antar manusia," jelasnya.

Lebih lanjut, Andi memaparkan bahwa faktor risiko penularan Hantavirus tipe HFRS umumnya berasal dari kontak dengan tikus atau celurut, baik melalui gigitan, urin, feses, maupun debu yang telah terkontaminasi.

"Ada gambarnya bagaimana pekerjaan (berisiko) yang berkaitan dengan kontak tikus, petugas sampah, petani, juga dengan daerah yang tergenang banjir, aktivitas di area berisiko seperti ruang bawah tanah yang ada tikus, gedung lama, dan lain sebagainya," ucapnya. *

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com