fin.co.id - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengungkapkan keberadaan banyak ranjau laut di Selat Hormuz. Kondisi itu membuat kapal-kapal yang ingin melintas wajib berkoordinasi dengan militer Iran demi menjaga keselamatan pelayaran.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam konferensi pers saat menjelaskan situasi keamanan di jalur laut strategis yang menjadi pusat pengiriman minyak dan gas dunia tersebut.
"Kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz jelas harus berkoordinasi dengan militer kami, karena adanya ranjau dan rintangan yang ada. Kami akan membimbing mereka, seperti yang telah kami lakukan dengan sejumlah kapal India. Navigasi yang aman adalah kebijakan kami," kata Araghchi.
Selat Hormuz Jadi Jalur Pelayaran Paling Sensitif
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling penting di dunia. Jalur ini menjadi lintasan utama pengiriman minyak dan gas global.
Namun, situasi di kawasan tersebut berubah drastis sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Akibat konflik tersebut, sebagian besar kapal memilih menghindari Selat Hormuz karena risiko keamanan yang meningkat. Dampaknya, distribusi energi dan pengiriman kargo global ikut terganggu.
Iran Awasi Kapal yang Melintas di Selat Hormuz
Sebelumnya dilaporkan sebanyak 30 kapal berhasil melintas di Selat Hormuz sejak Rabu malam (13/5) di bawah pengawasan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Selain itu, data dari platform pelacakan kapal Marine Traffic menunjukkan sedikitnya empat kapal yang terkait dengan China juga melewati selat tersebut dalam 24 jam terakhir.
Kapal-kapal tersebut melintas melalui koridor pelayaran yang disebut sebagai jalur “aman” milik Iran.
Keberadaan koridor khusus itu menunjukkan Iran masih membuka akses pelayaran terbatas dengan pengawasan ketat dari militernya.
Gencatan Senjata Iran dan AS Belum Capai Kesepakatan Permanen
Di tengah ketegangan kawasan, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan.
Meski begitu, perundingan yang berlangsung di Islamabad belum berhasil menghasilkan kesepakatan jangka panjang antara kedua negara.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu yang ditentukan.
Hingga kini, situasi di Selat Hormuz masih menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut memegang peran penting dalam stabilitas energi global.