Internasional . 22/05/2026, 17:44 WIB

Ada Sinyal Positif Pembicaraan Iran-AS, Tapi Selat Hormuz dan Uranium Masih Jadi Sengketa

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Proses negosiasi antara pihak Teheran dan Washington mulai memperlihatkan perkembangan baru. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menggelar pertemuan lanjutan dengan Menteri Dalam Negeri Pakistan, Syed Mohsin Naqvi, di Teheran pada Jumat, 22 Mei 2026.

Pertemuan ini bertujuan untuk membahas berbagai proposal konkret guna mengakhiri konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel. Kendati demikian, perselisihan mengenai kepemilikan persediaan uranium serta kendali atas Selat Hormuz masih membayangi jalannya diplomasi tersebut.

Pertemuan tersebut berlangsung tepat dua hari setelah Naqvi meneruskan pesan terbaru dari pemerintah AS kepada pihak Iran. Menurut laporan dari kantor berita semi-resmi Tasnim dan ISNA, Naqvi bertindak sebagai fasilitator komunikasi internasional demi menyusun kerangka kerja perdamaian sekaligus menjembatani perbedaan tajam di antara kedua belah pihak.

Isyarat Baik dari AS dan Kendala Pungutan Tol di Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberikan tanggapan terkait perkembangan meja perundingan ini kepada awak media pada hari Kamis. Rubio mengonfirmasi hadirnya beberapa sinyal positif, namun ia juga melempar peringatan keras. AS menegaskan tidak akan ada kesepakatan damai jika Iran tetap bersikeras menerapkan sistem pungutan tol bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Sebagai informasi, jalur pelayaran strategis tersebut telah mengalami penutupan efektif bagi sebagian besar pengiriman logistik global sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu. Pihak kementerian luar negeri negara adidaya tersebut memilih untuk bersikap realistis dalam mengamati dinamika beberapa waktu ke depan.

“Ada beberapa tanda baik,” kata Rubio. “Saya tidak ingin terlalu optimis. Jadi, mari kita lihat apa yang terjadi dalam beberapa hari ke depan.”

Pernyataan senada juga meluncur dari internal pemerintah Iran. Sumber senior di Teheran mengonfirmasi kepada Reuters bahwa jarak perbedaan pandangan memang sudah mulai mengecil. Meski begitu, terdapat beberapa poin krusial yang hingga saat ini masih belum menemui titik temu, antara lain:

Tingkat Pengayaan Uranium: Kapasitas cadangan material nuklir milik Iran masih memicu kekhawatiran besar dari pihak sekutu.

Kontrol Selat Hormuz: Aturan mengenai siapa yang berhak memegang kendali penuh atas jalur pelayaran komersial internasional.

Sistem Retribusi Maritim: Kebijakan penarikan tol oleh pihak militer Teheran yang mendapat penolakan keras dari pihak Barat.

Dampak Nyata Konflik Terhadap Stabilitas Ekonomi Global

Konflik bersenjata yang berkepanjangan ini telah memukul mundur stabilitas ekonomi global secara signifikan. Lonjakan harga komoditas energi di pasar internasional memicu kekhawatiran meluas akan ancaman inflasi yang merajalela di berbagai negara.

Sebelum badai pertempuran melanda kawasan Timur Tengah, Selat Hormuz memegang peran yang sangat vital bagi urat nadi perdagangan dunia. Jalur air yang sempit ini merupakan rute perlintasan utama bagi sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah serta gas alam cair (LNG) di seluruh dunia.

Akibat ketidakpastian yang masih menyelimuti hasil akhir dari rangkaian dialog perdamaian ini, mata uang Dolar AS terus merangkak naik hingga mendekati level tertinggi dalam kurun waktu enam minggu terakhir pada hari Jumat. Di sisi lain, grafik harga minyak mentah dunia kembali meroket akibat para pelaku pasar dan investor meragukan prospek keberhasilan dari negosiasi tersebut.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com