Internasional . 31/05/2026, 20:23 WIB

Pasukan Israel Rebut Kastil Beaufort di Lebanon Selatan, Gempur Infrastruktur Militer Hizbullah

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Situasi di perbatasan Timur Tengah kembali memanas setelah militer Israel mengambil langkah agresif di wilayah darat. Pasukan Israel sukses merebut Kastil Beaufort, sebuah benteng bersejarah berusia 900 tahun yang terletak di atas punggung bukit strategis Lebanon selatan. Pihak militer mengonfirmasi keberhasilan merebut titik pertahanan penting tersebut pada Minggu, 31 Mei 2026.

Aksi ofensif ini menandai kemajuan besar sekutu Amerika Serikat tersebut dalam melemahkan kekuatan milisi Hizbullah yang mendapat dukungan penuh dari Iran. Menariknya, operasi skala besar ini tetap bergulir meski kedua belah pihak sebenarnya sudah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sejak lebih dari enam minggu yang lalu.

Menanggapi situasi terbaru di garis depan, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa pasukannya tidak akan beranjak. Pihak Tel Aviv memastikan tentara mereka akan tetap berjaga dan berada di Beaufort sebagai bagian dari zona keamanan Israel di Lebanon.

Alasan Militer Targetkan Punggung Bukit Beaufort dan Lembah Wadi al-Saluki

Operasi darat yang dilancarkan oleh militer Israel kali ini bukan tanpa alasan. Pergerakan unit tempur di lapangan fokus sepenuhnya untuk menguasai area Punggung Bukit Beaufort serta kawasan sekitar Wadi al-Saluki. Langkah ini bertujuan untuk meruntuhkan dominasi milisi pelayan Teheran tersebut dan menghancurkan benteng-benteng pertahanan mereka.

Pihak militer menyebut kawasan dataran tinggi ini sebagai pusat logistik dan operasional yang krusial. Pasukan di lapangan bergerak aktif menghancurkan seluruh infrastruktur militer di punggung bukit, yang menurut klaim mereka, dibangun di bawah arahan langsung dari pemerintah Iran.

Pertempuran sengit di area bersejarah ini juga memakan korban jiwa dari pihak penyerang. Militer Israel mengonfirmasi bahwa satu tentara Israel tewas selama jalannya operasi perebutan wilayah tersebut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar resmi maupun pernyataan langsung dari pemerintah Lebanon ataupun dari manajemen kelompok Hizbullah terkait jatuhnya benteng abad pertengahan tersebut.

Dampak Serangan Roket dan Peta Konflik Berskala Besar

Aksi perebutan kastil abad pertengahan dan punggung bukit ini otomatis memperdalam jejak kaki dan pengaruh militer Israel di dalam wilayah kedaulatan Lebanon. Front pertempuran antara Israel dan Hizbullah terbukti tetap aktif membara, bahkan ketika skema gencatan senjata paralel sebenarnya sedang berlaku dalam cakupan perang Iran yang lebih luas.

Sebelum benteng ini jatuh, situasi di wilayah utara Israel memang sudah sangat genting. Sepanjang hari Sabtu kemarin, Hizbullah meluncurkan salah satu gelombang tembakan terberat ke arah wilayah Israel utara sejak kesepakatan gencatan senjata bulan April lalu. Imbas dari hujan roket tersebut memaksa otoritas setempat mengambil tindakan darurat berupa penutupan fasilitas sekolah dan pemberlakuan pembatasan aktivitas bagi warga sipil.

Sejarah mencatat bahwa Hizbullah mulai memasuki pusaran perang AS-Israel melawan Iran dengan mengandalkan taktik serangan udara. Mereka aktif menembakkan roket dan menerbangkan drone ke wilayah Israel pada 2 Maret, hanya berselang beberapa hari setelah konflik utama dengan Iran pecah. Sejak saat itu, militer Israel terus melancarkan operasi balasan demi mengusir milisi pro-Iran tersebut agar menjauh dari perbatasan utara mereka.

Keuntungan Strategis Titik Pengawasan Baru dan Target Nabatieh Berikutnya

Secara taktis, keberhasilan merebut dan menduduki Kastil Beaufort memberikan keuntungan besar bagi lini pertahanan Israel. Keberadaan pasukan di puncak bukit ini memberikan hak istimewa berupa titik pengawasan yang sangat luas, yang mencakup sebagian besar wilayah Lebanon selatan hingga area pemukiman di Israel utara.

Posisi ketinggian inilah yang selama ini dimanfaatkan oleh pihak lawan untuk membidik target di seberang perbatasan. Militer Israel mengungkapkan bahwa Hizbullah telah "melakukan banyak serangan" dari atas Punggung Bukit tersebut. Pihak intelijen menambahkan bahwa unit tempur IDF bergerak mematikan infrastruktur peluncuran roket di area tersebut, yang menjadi hulu ledak dari "ratusan proyektil diluncurkan ke arah warga sipil Israel dan tentara IDF."

Tidak berhenti di Beaufort, ambisi militer Israel tampaknya masih akan terus merembet ke wilayah lain. Pihak tentara mengonfirmasi bahwa pasukan Israel juga mulai beroperasi dan melakukan manuver di dekat Nabatieh, yang selama ini dikenal luas sebagai salah satu kota benteng utama sekaligus basis kekuatan terbesar bagi Hizbullah di wilayah Lebanon selatan.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com