fin.co.id - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, terus mengembangkan program ketahanan pangan dengan memanfaatkan lahan yang sebelumnya belum produktif. Berbagai komoditas pertanian, perkebunan, hingga peternakan kini dibudidayakan dengan melibatkan warga binaan sebagai bagian dari program pembinaan sekaligus mendukung arahan pemerintah terkait penguatan ketahanan pangan nasional.
Kepala Lapas Kelas IIA Warungkiara, Kurnia Panji Pamekas mengatakan, program tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang diperkuat melalui program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
"Perintah dari bapak presiden, kita dari hasil ciptanya ditambah dengan 15 akselerasi dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan bahwa ketahanan pangan perlu ditonjolkan," ujar Panji kepada wartawan di Sukabumi, Jawa Barat, Selasa, 9 Juni 2026.
Panji megatakn, beragam komoditas saat ini dibudidayakan di area pertanian Lapas Warungkiara, mulai dari ikan nila dan lele hingga berbagai jenis sayuran. Tidak hany itu, kata dia, buah-buahan seperti pisang, pakcoy, caisim, kangkung, tomat, cabai merah, cabai hijau, cabai rawit, daun bawang, seledri, terong bulat, terong ungu, pepaya, nanas, dan mentimun juga dibudidayaka di sini.
Selain itu, pihak lapas juga tengah mengembangkan budidaya melon varietas premium asal Jepang. Panji menjelaskan, pihaknya baru saja melakukan penanaman ratusan benih melon dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi.
"Sekarang sedang menanam mencoba untuk tanaman melon yang dari Jepang yaitu merk intanon ya betul kami lagi coba kemarin saya tanam 500 butir yang tidak tumbuh ada 13," katanya.
Sebelumnya, kata dia, Lapas Warungkiara juga berhasil membudidayakan melon jenis gold dan hijau yang menghasilkan panen hingga puluhan ton. Hasil panen tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat sekitar, pegawai, dan warga binaan.
"Melon gold dan ijo itu saya tanam menghasilkan 30 ton dan itu saya bagikan kepada warga masyarakat pegawai juga warga binaan," ungkapnya.
Keberhasilan budidaya melon tersebut bahkan mendapat perhatian dari Dinas Pertanian dan sejumlah pelaku usaha benih karena wilayah Warungkiara selama ini belum dikenal sebagai daerah penghasil melon.
"Baru di sini kemarin dari dinas pertanian juga para tokoh-toko benih kaget ketika lapas warung mutiara Nana melon apakah tumbuh di sini katanya melon tapi ternyata tumbuh dan berhasil kemarin," ujarnya.
Menurut Kurnia, langkah optimalisasi lahan dilakukan setelah pihaknya memutuskan untuk tidak lagi menyewakan lahan yang tersedia kepada pihak ketiga. Sebagai gantinya, seluruh area akan dikelola langsung oleh lapas dengan melibatkan warga binaan.
"Nah sekarang kami coba hasil rapat dengan rekan-rekan seluruh pejabat bahwa lahan ini tidak akan kami sewakan lagi dan dikelola oleh sendiri dan memberdayakan warga binaan," katanya.
Secara keseluruhan, Lapas Warungkiara memiliki lahan seluas 10 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar tiga hektare digunakan untuk kawasan perkantoran dan blok hunian, sementara tujuh hektare lainnya dimanfaatkan untuk sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan.
"Status lahan total keseluruhan 10 hektar, 3 hektar lahan perkantoran termasuk blok hunian yang 7 hektar termasuk lahan peternakan perkebunan, dan pertanian," jelasnya.
Salah satu program unggulan yang kini tengah dikembangkan adalah budidaya pisang raja bulu. Program tersebut diproyeksikan menjadi percontohan atau pilot project untuk memasok kebutuhan pisang di berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Jawa Barat.