Kenaikan BBM Nonsubsidi Berpotensi Sumbang Inflasi 0,25 Persen, BI Optimis Target Tetap Terjaga

news.fin.co.id - 18/06/2026, 21:34 WIB

Kenaikan BBM Nonsubsidi Berpotensi Sumbang Inflasi 0,25 Persen, BI Optimis Target Tetap Terjaga

Bank Indonesia memprediksi kenaikan BBM nonsubsidi menyumbang inflasi 0,25 persen.

fin.co.id – Fluktuasi harga energi global mulai memberikan pengaruh pada indikator perekonomian dalam negeri. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman, mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diprediksi menyumbang inflasi sebesar 0,25 persen, namun pihaknya optimis tingkat inflasi terjaga di kisaran 1,5-3,5 persen.

Ia menyampaikan, harga BBM nonsubsidi masih akan berfluktuasi sebagai dampak dari rambatan dinamika geopolitik global, seperti Pertamax dan Pertamax Turbo yang mengalami kenaikan hingga Rp4 ribu per liter, sementara Dexlite dan Pertamina Dex mengalami penurunan sekitar Rp3 ribu per liter.

Kepastian angka proyeksi ini muncul dalam pemaparan resmi otoritas moneter tertinggi di tanah air pada hari Kamis, 18 Juni 2026.

“Tentunya (harga BBM nonsubsidi) ini akan berfluktuasi tergantung dari harga global tadi. Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25 persen kepada inflasi,” kata Aida dalam konferensi pers daring “Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Juni 2026” di Jakarta.

Advertisement

Selain kenaikan harga bahan bakar, ia juga menyoroti adanya potensi imported inflation akibat kenaikan harga komoditas global, misalnya pupuk, akibat ketegangan geopolitik yang masih berlanjut di sejumlah wilayah. Namun, pihak bank sentral melihat sektor penunjang pertanian domestik masih cukup aman. Pihaknya optimis harga pupuk masih dapat terjaga karena stok produksi dalam negeri yang masih mencukupi kebutuhan para petani.

Di samping dinamika geopolitik, Aida menuturkan bahwa tingkat inflasi domestik juga dipengaruhi oleh cuaca yang saat ini memasuki musim kemarau yang dapat memberikan dampak terhadap harga-harga komoditas bergejolak (volatile food), termasuk pangan.

Untuk mengatasi inflasi pangan, ia menyatakan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP).

“Dengan hal itu semua, memang proyeksi inflasi ini mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5 plus minus 1 persen. Jadi paling tinggi (inflasi) kita (di level) 3,5 (persen). Ini masih dalam target-target tersebut,” tutur Aida.

Lonjakan Inflasi Pangan Bergejolak di Sejumlah Provinsi

Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali, menyampaikan inflasi volatile food pada Mei 2026 mengalami lonjakan menjadi 6,24 persen year-on-year (yoy), sementara inflasi tahunan secara keseluruhan tercatat sebesar 3,08 persen yoy.

Efek pergeseran harga ini ternyata menunjukkan peta sebaran yang tidak merata antardaerah. Ia mengatakan, dampak inflasi volatile food sangat terasa di beberapa daerah. Pihaknya mencatat, tingkat inflasi di 25 provinsi masih berada dalam rentang sasaran, tapi tingkat inflasi di 13 provinsi lainnya sudah mulai melewati batas.

“Seperti di Papua Barat (tingkat inflasi sebesar) 5,94 persen, kemudian di Aceh 5,12 persen, kemudian di Kalimantan Tengah juga 4,55 persen,” ucap Ricky.

Ia menyatakan, komoditas pangan merupakan penyumbang andil inflasi terbesar akibat adanya kenaikan harga hortikultura, cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit.

Advertisement

Guna meredam tekanan ekonomi di daerah-daerah tersebut, bank sentral memaksimalkan peran jaringan kantor perwakilan mereka. Pihaknya bersama 46 kantor perwakilan Bank Indonesia pun bersinergi dengan pemerintah daerah melalui TPIP, TPID, dan Program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) untuk menekan dampak inflasi tersebut.

“(Upaya) ini adalah untuk menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga pangan di berbagai daerah,” ujar Ricky.

Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID