fin.co.id - Menjelang usia Jakarta yang akan memasuki setengah milenium, perhatian terhadap masa depan ibu kota tidak hanya tertuju pada pembangunan gedung-gedung tinggi dan infrastruktur modern. Keberlanjutan lingkungan, khususnya keberadaan Sungai Ciliwung, dinilai menjadi salah satu penentu penting masa depan Jakarta.
Kesadaran tersebut mendorong mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Persada Indonesia YAI (Fikom UPI YAI) menggelar seminar lingkungan bertajuk "Ciliwung Bicara: Menjaga Sungai, Menjaga Masa Depan Jakarta" di RPTRA MH Thamrin, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.
Kegiatan yang merupakan implementasi Mata Kuliah Manajemen Event bagi mahasiswa semester enam itu tidak hanya menjadi forum diskusi akademik, tetapi juga ruang kolaborasi antara kalangan kampus, pemerintah, komunitas lingkungan, dan masyarakat dalam mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi Sungai Ciliwung.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Manajemen Event UPI YAI, Khina Januar Rahmawati menilai, upaya penyelamatan Sungai Ciliwung sudah menjadi kebutuhan mendesak yang memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
"Sebuah event tidak hanya dinilai dari kemeriahannya, tetapi dari dampak nyata bagi masyarakat. Menjelang Jakarta 500 tahun, menjaga Kali Ciliwung adalah tanggung jawab bersama yang sudah tidak bisa ditunda lagi. Ini membutuhkan kolaborasi radikal dari semua pihak," tegas Khina dikutip dari keteranganya, Senin, 29 Juni 2026.
Pelaksanaan seminar tersebut juga mendapat apresiasi dari masyarakat setempat. Wakil Ketua RW 04 Kenari, Sapta Giri mengaku bangga melihat keterlibatan aktif mahasiswa yang tidak hanya berkutat pada teori, tetapi juga turun langsung ke tengah masyarakat.
"Saya sangat mengapresiasi semangat dan karya mahasiswa yang luar biasa. Meski baru semester enam, mereka telah menunjukkan kontribusi nyata, bukan sekadar teori. Saya berharap gaung dari acara ini bisa mendorong Sungai Ciliwung bertransformasi menjadi destinasi wisata yang bersih dan bermanfaat bagi masyarakat," kata Sapta Giri.
Dalam seminar tersebut, peserta diajak melihat Sungai Ciliwung dari berbagai perspektif. Founder Beeyouth Community, Geo Septianella menjelaskan, keberadaan Ciliwung tidak sekadar sebagai aliran sungai, tetapi merupakan bagian penting dari sistem kehidupan perkotaan yang berpengaruh terhadap pengendalian banjir, kualitas lingkungan, hingga keberlangsungan keanekaragaman hayati.
Sementara itu, Nadya Nuratiqah Putri dari Dinas Lingkungan Hidup Kecamatan Senen mengajak masyarakat untuk mulai mengubah cara pandang terhadap pengelolaan sampah. Menurutnya, pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi keberlanjutan lingkungan.
Diskusi berlangsung dinamis ketika mahasiswa dan warga saling bertukar gagasan mengenai berbagai langkah konkret untuk mengatasi persoalan pencemaran sungai. Forum tersebut juga menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola isu lingkungan melalui pendekatan komunikasi publik dan advokasi sosial.
Ketua Panitia Pelaksana, Ratu Tifanie Putri Lian berharap, kegiatan tersebut menjadi langkah awal lahirnya kerja sama yang lebih luas dalam upaya menjaga lingkungan perkotaan.
"Kami berharap 'Ciliwung Bicara' menjadi pemantik awal dari lahirnya kolaborasi jangka panjang. Ini adalah bukti bahwa mahasiswa tidak tinggal diam melihat isu lingkungan di depan mata," pungkasnya.
Melalui penyelenggaraan seminar ini, mahasiswa Fikom UPI YAI menunjukkan bahwa ilmu komunikasi dan manajemen event dapat menjadi instrumen yang efektif untuk membangun kesadaran publik, memperkuat advokasi lingkungan, serta mendorong terwujudnya Jakarta yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan di masa depan.