fin.co.id — Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah tiba di kompleks keagamaan Grand Mosalla Teheran pada Jumat, 3 Juli 2026. Kedatangan jasad tokoh spiritual tersebut mendahului rangkaian upacara pemakaman akbar pasca insiden fatal yang memicu eskalasi besar di kawasan Timur Tengah.
Ali Khamenei tewas pada usia 86 tahun akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menyasar kompleks kediamannya di pusat ibu kota Iran.
Otoritas setempat memproyeksikan jutaan warga Iran beserta delegasi asing akan memadati prosesi penghormatan resmi pada Sabtu, 4 Juli 2026. Guna membalas kematian sang pemimpin, kepala negosiator Teheran menyerukan kehadiran massa dalam jumlah masif.
Berdasarkan dokumentasi media pemerintah, para pelayat mengusung peti mati yang berselimutkan bendera tiga warna kebanggaan Iran menuju salah satu situs keagamaan terpenting di Republik Islam tersebut.
Suasana haru menyelimuti upacara pra-pemakaman yang dipenuhi oleh lautan manusia berpakaian hitam. Peti mati mendiang tampak anggun berlatarkan hiasan bunga merah segar dan replika kupu-kupu putih yang beterbangan di udara.
Dalam momen tersebut, Kepala Garda Revolusi sekaligus sayap ideologis militer Iran, Ahmad Vahidi, hadir memberikan penghormatan langsung di sisi jenazah. Kemunculan publik ini menjadi yang pertama bagi Vahidi sejak konfrontasi bersenjata meletus pertama kali pada bulan Februari lalu.
Gencatan Senjata dan Kehadiran Delegasi Internasional
Persiapan upacara pelepasan publik ini sempat tertunda akibat puncak perang yang berkecamuk. Namun, prosesi kini dapat berjalan seiring komitmen Iran dan Amerika Serikat untuk mematuhi kesepakatan gencatan senjata awal demi menghentikan konflik. Pakistan, selaku mediator utama dalam meja perundingan AS-Iran, mengonfirmasi bahwa Perdana Menteri Shehbaz Sharif bakal hadir secara langsung ke Teheran.
Selain Pakistan, negara-negara tetangga seperti China, Afghanistan, serta sejumlah utusan dari wilayah Kaukasus juga memastikan pengiriman perwakilan resmi mereka. Sejac Kamis kemarin, para pekerja terus berbenah membersihkan dan mempercantik Grand Mosalla. Sementara itu, tim keamanan memperketat penjagaan dengan memeriksa kendaraan yang melintas di sekitar kawasan.
"Kami menanam bunga dan menyirami semak-semak untuk upacara perpisahan pemimpin kami yang gugur," ujar Hossein Moghadassi, salah satu pekerja lapangan yang menyamarkan wajahnya dengan topi dan syal di tengah lonjakan suhu udara Teheran. "Orang-ofang akan datang dari seluruh Iran. Akan ada kerumunan besar."
Seruan mobilisasi massa juga datang secara lantang dari Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Dirinya meminta seluruh elemen masyarakat untuk hadir memberikan penghormatan terakhir secara totalitas.
"Seruan bangsa untuk pembalasan harus bergema di telinga seluruh dunia," tegas Ghalibaf dalam pernyataan resminya, seraya mengajak rakyat mengukir lembaran gemilang dalam sejarah Iran Islam.
Prosesi Berkabung Nasional dan Penghormatan Terakhir
Sebagai figur spiritual sentral bagi jutaan umat Syiah, jasad Ali Khamenei akan disemayamkan selama tiga hari penuh di dalam kemegahan Grand Mosalla. Ruangan tersebut kini dipenuhi oleh berbagai spanduk yang memuat gambar serta kutipan-kutipan bersejarah mendiang. Selain sang pemimpin tertinggi, pihak otoritas juga akan mempersembahkan jenazah kerabatnya yang turut gugur dalam serangan maut tersebut.
Para pejabat memperkirakan total pelayat yang akan menghadiri rangkaian acara ini mencapai 15 hingga 20 juta orang. Skala tersebut berpotensi menorehkan rekor sebagai upacara pemakaman kenegaraan terbesar sepanjang sejarah Iran. Ghalibaf bahkan menggarisbawahi momentum ini sebagai salah satu fase paling signifikan bagi bangsa.