Negosiasi Mandek, AS Pertimbangkan Operasi Besar-Besaran Rebut Uranium Iran

news.fin.co.id - 26/07/2026, 12:44 WIB

Negosiasi Mandek, AS Pertimbangkan Operasi Besar-Besaran Rebut Uranium Iran

Iran serang pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain dengan rudal dan drone.

fin.co.id - Amerika Serikat dikabarkan tengah mengkaji opsi operasi militer berskala besar untuk mengambil persediaan uranium yang diperkaya dari fasilitas nuklir Iran. Laporan tersebut pertama kali diungkap New York Post, yang menyebut ribuan personel militer dapat dilibatkan dalam misi berisiko tinggi itu. 

Mengutip sumber militer, laporan tersebut menyebut jalur diplomasi dinilai tidak lagi cukup efektif untuk mengatasi persoalan program nuklir Iran.

"Saya benci mengatakannya, tetapi saya pikir cara terbaik untuk menyingkirkan material nuklir Iran, sekurangnya dengan apa yang mereka kuasai sekarang, adalah melalui operasi militer karena negosiasi saat ini mandek," kata sumber militer tersebut.

Menurut laporan itu, operasi akan diawali dengan pengerahan ribuan pasukan darat untuk menguasai fasilitas nuklir Iran. Mereka bertugas menjinakkan jebakan, mengamankan area, serta membangun garis pertahanan di sekitar lokasi operasi. 

Setelah area dinyatakan aman, tim kecil pasukan khusus disebut akan masuk untuk mengambil uranium yang diperkaya. Tahapan ini disebut sebagai bagian paling berbahaya dari keseluruhan misi karena berisiko menghadapi perlawanan langsung dari pasukan Iran.

Selain harus membersihkan puing-puing akses masuk ke fasilitas yang rusak, militer AS juga diperkirakan harus mempertahankan posisi dari kemungkinan serangan balasan. Penguasaan koridor udara juga menjadi syarat penting agar pesawat militer dapat mendarat dan mengevakuasi material nuklir tersebut dengan aman. 

Di sisi lain, Iran dikabarkan telah mengantisipasi kemungkinan invasi darat. Pada Kamis 23 Juli, sumber militer Iran menyebut angkatan bersenjata negara itu telah menjalani latihan menghadapi berbagai skenario serangan militer AS.

Ketegangan kedua negara kembali meningkat meski sebelumnya, pada 18 Juni 2026, AS dan Iran sempat menandatangani memorandum perdamaian untuk menghentikan konflik yang dimulai sejak 28 Februari.

Namun situasi kembali memanas setelah pasukan AS melancarkan serangan ke Iran mulai 8 Juli. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Presiden Donald Trump selanjutnya menyatakan kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran tidak lagi berlaku. *

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca