fin.co.id - Ketegangan di kawasan Jalur Gaza kembali memuncak setelah kelompok perlawanan Palestina, Hamas, melemparkan tuduhan serius terhadap pihak militer Israel.
Hamas menilai Israel sengaja melancarkan gelombang gempuran udara maupun darat untuk mengacaukan kesepahaman yang telah terbangun bersama para mediator dan pemerintah Amerika Serikat terkait pelaksanaan tahap baru kesepakatan gencatan senjata.
Melalui pernyataan resminya, Hamas membeberkan fakta bahwa aksi gempuran militer zionis sejak Minggu, 2 Agustus 2026 pagi telah memakan korban jiwa sedikitnya 18 warga Palestina. Serangan destruktif tersebut bahkan menghabisi seluruh anggota dari satu keluarga.
Pengeboman tersebut merupakan "eskalasi yang disengaja oleh penjahat perang Netanyahu untuk mengganggu kesepahaman yang tercapai dengan mediator, termasuk pemerintah AS, untuk merampungkan implementasi kesepakatan gencatan senjata," kata Hamas.
Desakan Kepada Mediator dan Komunitas Internasional
Menyikapi eskalasi berdarah ini, Hamas menyerukan secara terbuka kepada para mediator beserta penjamin gencatan senjata agar segera "menunaikan tanggung jawabnya". Pihaknya mendesak lembaga dan negara penjamin untuk mengecam keras aksi brutal tersebut, sekaligus memprotes serta menekan pihak Israel agar menghentikan agresi dan tunduk pada poin-poin kesepakatan.
Kelompok tersebut mengecap tindakan brutal militer Israel sebagai "kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan". Oleh karena itu, Hamas meminta komunitas internasional segera mengambil langkah-langkah hukum yang konkret demi mengadili serta memastikan rezim zionis Israel bertanggung jawab atas aksi kejahatan mereka.
Hamas menuntut perlindungan mendesak bagi warga sipil Palestina yang kini berada dalam kondisi sangat rentan akibat "ancaman genosida dan pengusiran".
Kemajuan Kesepakatan yang Belum Direspons Israel
Upaya perdamaian sebenarnya sempat menunjukkan titik terang pada Jumat lalu. Dewan Perdamaian (Board of Peace) bersama Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan tercapainya kesepakatan penting, di mana pelaksanaan tahapan selanjutnya dari skema gencatan senjata di Gaza sudah siap berjalan.
Dalam pengumuman resmi tersebut, pihak Dewan Perdamaian dan AS memastikan bahwa Hamas telah menyetujui peta jalan (roadmap) rinci yang mengatur kelanjutan proses perdamaian di lapangan.
Kendati demikian, hingga saat ini rezim zionis Israel justru memilih bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi sedikit pun atas kemajuan proses diplomasi tersebut.