Megapolitan

Sopir Angkot M44 Ngamuk Penghasilan Anjlok 70 Persen, Dishub DKI Langsung Turun Tangan!

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan (Dishub) bergerak cepat merespons konflik antara sopir angkot M44 (Kampung Melayu-Tebet-Karet) dengan pramudi Mikrotrans JakLingko 48A (Stasiun Tebet-Rusun Karet Tengsin).

Sopir Angkot M44 Ngamuk Penghasilan Anjlok 70 Persen, Dishub DKI Langsung Turun Tangan!
Angkot M44 (Kampung Melayu-Tebet-Karet) yang tengah berkonflik dengan dengan pramudi Mikrotrans JakLingko 48A (Stasiun Tebet-Rusun Karet Tengsin).

fin.co.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan (Dishub) bergerak cepat merespons konflik antara sopir angkot M44 (Kampung Melayu-Tebet-Karet) dengan pramudi Mikrotrans JakLingko 48A (Stasiun Tebet-Rusun Karet Tengsin). Perselisihan ini dipicu oleh tumpang tindihnya trayek yang dilalui kedua belah pihak hingga memicu ketegangan di lapangan.

Guna meredam perselisihan yang kerap terjadi saat armada berpapasan, Dishub berencana menggelar mediasi resmi.

"Minggu depan kita akan melakukan pertemuan pengemudi dengan koperasi bersama Dishub, bersama TransJakarta," kata Wakil Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Ujang Harmawan di Balai Kota Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.

Ujang tak menampik adanya titik-titik jalur yang beririsan langsung antara angkot M44 dan JakLingko 48A. Sebagai solusinya, pihak Dishub bakal melakukan revaluasi terhadap lintasan Mikrotrans tersebut.

"Kita akan mengkaji kembali untuk masalah pengaturan rutenya," pungkas Ujang.

Langkah ini diambil pasca gelombang unjuk rasa puluhan sopir angkot M44 di depan Balai Kota Jakarta pada Kamis, 6 Agustus 2026. Para pengemudi mendesak Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk memindahkan rute JakLingko 48A sebagaimana kesepakatan awal.

Penghasilan Anjlok Hingga Potensi Aksi Susulan

Koordinator sopir angkot M44, Suwadi, membeberkan bahwa gesekan trayek ini memukul telak ekonomi para sopir. Pendapatan harian mereka merosot drastis hingga lebih dari 70 persen semenjak JakLingko 48A melintasi rute yang sama selama lebih dari dua tahun.

Suwadi menceritakan bahwa sebelumnya sopir angkot M44 mampu membawa pulang uang sekitar Rp300 ribu per hari. Namun saat ini, mereka harus gigit jari karena hanya mengantongi kurang dari Rp50 ribu per hari.

"Turunnya lebih dari 70 persen penghasilan kita," kata Suwadi saat ditemui di lokasi aksi unjuk rasa.

Kondisi inilah yang memicu perselisihan berulang antara pengemudi angkot konvensional dan pramudi Mikrotrans. Suwadi pun melayangkan ancaman bakal menggelar demonstrasi susulan dengan pengerahan massa lebih masif jika tuntutan mereka diabaikan.

Bahkan, para sopir merencanakan tindakan nekat untuk melumpuhkan arus lalu lintas di kawasan vital.

"Kita aksi yang lebih besar kita akan tutup jalan di Tebet. Stasiun Tebet," pungkasnya.

Berita Terkait