Megapolitan

TPS Liar Beroperasi 24 Tahun, Pramono Anung Curiga Ada “Ordal” yang Bermain?

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mencurigai adanya keterlibatan orang dalam atau "ordal" di balik keberadaan tempat pembuangan sampah (TPS) liar di Jakarta.

TPS Liar Beroperasi 24 Tahun, Pramono Anung Curiga Ada “Ordal” yang Bermain?
inas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengambil langkah tegas dengan menutup permanen tiga Tempat Pembuangan Sampah (TPS) ilegal yang sempat viral akibat penumpukan sampah.

fin.co.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mencurigai adanya keterlibatan orang dalam atau "ordal" di balik keberadaan tempat pembuangan sampah (TPS) liar di Jakarta.

Kecurigaan itu mencuat setelah ditemukan TPS liar di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, yang disebut telah beroperasi selama sekitar 24 tahun tanpa terungkap ke publik.

Pramono menduga ada pihak tertentu yang sengaja menutupi keberadaan lokasi tersebut demi mempertahankan keuntungan dari aktivitas pembuangan sampah ilegal.

"Dengan segala respek saya, saya juga harus melakukan pembenahan ke dalam. Orang sudah banyak yang mendapatkan kenikmatan dari itu," ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.

Menurut Pramono, pembenahan sistem pengelolaan sampah Jakarta membutuhkan proses dan tidak bisa dilakukan secara instan. Salah satu langkah penting yang harus dilakukan adalah menertibkan keberadaan TPS-TPS liar.

"Untuk menangani persoalan sampah ini enggak bisa bimsalabim," ujarnya.

Ia menyadari kebijakan penertiban tersebut berpotensi menimbulkan penolakan dari pihak-pihak yang selama ini memperoleh keuntungan dari praktik tersebut.

"Pasti nanti banyak juga yang kemudian menyerang saya sebagai Gubernur, tapi saya enggak akan mundur untuk apa? Untuk pembenahan sampah di Jakarta. Dan ini untuk kebaikan kita bersama," tegasnya.

Pramono menilai kondisi pengelolaan sampah di Jakarta saat ini mulai menunjukkan perbaikan. Salah satunya ditandai dengan beroperasinya fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau RDF di Rorotan, Jakarta Utara.

Menurutnya, RDF Rorotan saat ini mampu mengolah sekitar 800 ton sampah per hari pada line 1.

"Lihat sendiri di RDF Rorotan yang dulu saya sendiri tidak membayangkan bisa kita selesaikan secara baik, alhamdulillah sekarang Rorotan line 1-nya produksinya bisa 800 ton," katanya.

Jika seluruh fasilitas beroperasi penuh, RDF Rorotan ditargetkan mampu mengolah hingga 2.000 ton sampah setiap hari.

"Mulai September ini line 2 dan line 3. Mudah-mudahan sesuai dengan target yang kita canangkan," pungkas Pramono.

Berita Terkait