Ekonomi

Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Buka Suara soal Nasib Pertalite, Naik Atau Tetap?

Potensi perubahan harga BBM nonsubsidi tidak terlepas dari lonjakan harga minyak dunia yang terjadi di tengah konflik Amerika Serikat dan Iran.

Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Buka Suara soal Nasib Pertalite, Naik Atau Tetap?
SPBU PT Pertamina: ilustrasi Harga BBM Terbaru

fin.co.id - Harga minyak dunia yang menembus 107 dolar AS per barel belum membuat pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan hingga akhir 2026.

Kepastian itu disampaikan Wakil Menteri ESDM Yuliot saat ditemui di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Selasa 29 September 2026.

“Kalau untuk pertalite, yang disampaikan sama Pak Menteri (ESDM Bahlil Lahadalia), sampai dengan akhir tahun kita mempertahankan ini tidak ada kenaikan untuk pertalite, untuk BBM bersubsidi,” ujar Yuliot.

Meski BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan, kondisi berbeda berlaku untuk BBM nonsubsidi. Harga jenis BBM tersebut dapat mengalami penyesuaian karena mengikuti perkembangan harga pasar.

Yuliot mengatakan pemerintah akan menghitung harga berdasarkan rata-rata harga minyak dunia dalam periode satu bulan.

“Jadi ini kami melihat rata-rata dalam satu bulan itu kira-kira berapa, penyesuaiannya kira-kira berapa,” ucap Yuliot.

Harga Minyak Dunia Tembus US$107 per Barel

Potensi perubahan harga BBM nonsubsidi tidak terlepas dari lonjakan harga minyak dunia yang terjadi di tengah konflik Amerika Serikat dan Iran.

Yuliot menyebut harga minyak dunia sempat mencapai 107 dolar AS per barel pada akhir September 2026. Level tersebut menunjukkan kenaikan setelah harga minyak sempat mengalami penurunan pada Juni-Juli.

Kondisi harga minyak global turut menjadi perhatian pemerintah karena berpengaruh terhadap asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP).

Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menghitung rata-rata ICP sepanjang Januari-September berada di sekitar 90,6 dolar AS per barel.

Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa saat masih menjabat sebagai Menteri Keuangan menyatakan defisit APBN hingga akhir tahun tetap terkendali dengan asumsi rata-rata harga ICP berada di level 100 dolar AS per barel.

Pemerintah Kejar Produksi Minyak

Berita Terkait