Nasional . 09/10/2026, 21:28 WIB

Target Zero ODOL Tak Bisa Dicapai Lewat Razia Truk, Perlu Dukungan Angkutan Multimoda

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Penerapan kebijakan zero Over Dimension Overloading (ODOL) membutuhkan lebih dari sekadar penindakan terhadap truk yang melanggar aturan di jalan raya. Perlu ketersediaan moda transportasi alternatif, terutama kereta api dan kapal laut untuk menjaga kelancaran distribusi barang, sekaligus mengendalikan biaya logistik.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendorong penguatan transportasi multimoda agar pembatasan kapasitas muatan truk tidak menghambat arus barang. Langkah tersebut juga diperlukan untuk menjaga efisiensi usaha, stabilitas harga barang, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Asisten Deputi Pengembangan Industri Logam, Mesin Alat Transportasi, Elektronika, dan Aneka Kemenko Perekonomian, Atong Soekirman menyampaikan hal itu dalam acara sinkronisasi Focus Group Discussion (FGD) Implementasi zero ODOL untuk Masa Depan Logistik Indonesia di Jakarta. Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, ia menegaskan pentingnya membangun sistem angkutan yang saling mendukung.

"Kebijakan pembersihan jalan dari truk ODOL tidak akan pernah berhasil secara optimal hanya dengan mengandalkan penindakan di jalan raya tanpa didukung sistem angkutan multimoda," kata Atong, Jumat, 9 Oktober 2026.

Kereta Api dan Kapal Laut Jadi Alternatif Angkutan Barang

Atong menjelaskan, sebagian besar distribusi logistik di Indonesia masih mengandalkan truk dan jalan raya. Karena itu, penyesuaian kapasitas muatan kendaraan sesuai aturan perlu berjalan beriringan dengan penyediaan alternatif angkutan yang memadai.

Salah satu pilihan yang dapat mendukung peralihan muatan berat adalah Kereta Api Logistik (Kalog). Moda ini mampu mengangkut ratusan ton barang dalam satu rangkaian tanpa menambah tekanan terhadap infrastruktur jalan.

Transportasi laut juga memiliki peran strategis, terutama untuk pengiriman logistik jarak jauh antarpulau maupun antarprovinsi. Penguatan kedua moda tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada truk sekaligus menjaga kelancaran distribusi.

"Hal itu penting untuk menjaga efisiensi operasional pengusaha sekaligus memastikan stabilitas harga barang di pasar," ujarnya.

Atong menegaskan, perpindahan angkutan dari truk ke kereta api atau kapal laut perlu menjadi bagian dari strategi penerapan zero ODOL. Menurutnya, pengembangan transportasi multimoda dapat membantu menekan biaya logistik sekaligus menjaga kondisi jalan raya.

"Artinya, multimoda menjadi kunci utama agar logistik tetap murah dan efisien, sementara jalan raya tetap aman dan terjaga kualitasnya. Potensi ini perlu terus dioptimalkan," katanya.

Penerapan Zero ODOL Perlu Dilakukan Bertahap

Meski peralihan moda menjadi salah satu solusi, Atong mengingatkan bahwa pelaksanaannya membutuhkan persiapan yang matang. Tahapan penerapan perlu mempertimbangkan masukan dari pelaku usaha agar penyesuaian sistem transportasi dapat berjalan dengan baik.

"Staging ini menjadi sangat penting agar nanti ada masukan dari para pelaku usaha untuk menyesuaikan ke arah sana. Jadi, penerapannya perlu dilakukan secara bertahap," tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa penguatan transportasi tidak hanya berkaitan dengan penerapan zero ODOL. Sistem angkutan yang memadai turut mendukung kelancaran lalu lintas dan meningkatkan efisiensi distribusi logistik nasional.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com