Pertamina Dukung Implementasi Biodiesel B50 untuk Kurangi Impor Solar
PT Pertamina (Persero) menyambut penerapan biodiesel B50 di Indonesia sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
fin.co.id - PT Pertamina (Persero) menyambut penerapan biodiesel B50 di Indonesia sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Senior Vice President Business Development Pertamina, Ary Kurniawan, mengatakan diversifikasi energi menjadi langkah penting untuk menjaga pasokan energi di dalam negeri. Menurutnya, Indonesia memiliki beragam sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
"Untuk menjaga ketahanan energi, kita perlu melakukan diversifikasi," jelas Ary kepada wartawan secara daring, Sabtu (10/10/2026).
Ia menjelaskan, kekayaan sumber daya energi Indonesia tidak hanya berasal dari minyak dan gas bumi, tetapi juga dari sektor perkebunan yang dapat dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif.
Baca Juga
"Indonesia bukan hanya memiliki sumber daya minyak dan gas, tetapi juga memiliki sumber daya perkebunan seperti sawit yang dapat diolah menjadi energi," jelas Ary.
Menurut Ary, penerapan B50 menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya dalam negeri untuk mendukung ketersediaan energi. Program ini juga dinilai berpotensi menekan kebutuhan impor solar sekaligus memberikan dampak terhadap lingkungan dan perekonomian.
Implementasi B50 diproyeksikan dapat mengurangi kebutuhan impor solar sekitar 18 juta kiloliter, menekan emisi hingga 44 juta ton CO2e, serta menghemat devisa hingga Rp170 triliun pada 2026.
Selain itu, program tersebut diperkirakan mampu menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja dan meningkatkan nilai tambah crude palm oil (CPO) sebesar Rp20,9 triliun.
Ary menegaskan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
"Tantangannya adalah bagaimana kita mengoptimalkan sumber daya tersebut sehingga dapat mendukung ketahanan energi nasional," ucap Ary.
Baca Juga
Di samping pengembangan biodiesel, Pertamina juga mengupayakan pemanfaatan minyak jelantah atau used cooking oil sebagai bahan baku sustainable aviation fuel (SAF), yang dikenal sebagai bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau bioavtur.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan energi alternatif, khususnya untuk sektor transportasi, sekaligus mendukung pengurangan emisi.
Pertamina menilai dukungan kebijakan dan regulasi pemerintah, termasuk kewajiban pemanfaatan bahan bakar nabati, diperlukan untuk mendorong pengembangan energi alternatif secara berkelanjutan.
Melalui diversifikasi sumber energi, pemanfaatan potensi domestik, dan pengembangan bahan bakar rendah emisi, upaya memperkuat ketahanan energi diharapkan dapat berjalan seiring dengan pengurangan ketergantungan terhadap impor BBM.