Iran Tak Mau Buka Selat Hormuz Sebelum AS Penuhi 7 Syarat Damai
Iran menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup sampai AS memenuhi tujuh syarat damai. Gangguan pelayaran turut mendorong kenaikan harga bahan bakar.
fin.co.id - Nasib pelayaran di Selat Hormuz masih bergantung pada hasil negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan, jalur strategis tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum Washington memenuhi tujuh syarat yang diajukan Teheran untuk menyelesaikan konflik secara damai.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan AS telah merespons sejumlah persyaratan tersebut, tetapi belum memberikan kejelasan atas seluruh poin yang diajukan Iran. Rencana tujuh poin itu sebelumnya disampaikan melalui Qatar pada September lalu.
"Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat Iran dipenuhi. Pihak Amerika mencoba berkomunikasi dengan kami melalui tiga jalur, yakni Irak, Pakistan, dan Qatar," kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, kepada saluran televisi Iran Press TV, Minggu, 11 Oktober 2026.
Rezaei menyebut Washington telah menerima sebagian syarat yang diajukan Teheran. Namun, ia menilai jawaban AS terhadap persyaratan lainnya masih belum jelas.
Baca Juga
"Namun, tanggapan mereka terhadap syarat-syarat lainnya masih samar," kata Rezaei.
Iran Tuduh AS Mengkhianati Proses Perundingan
Di tengah upaya komunikasi kedua negara, Rezaei juga menuding AS berulang kali melancarkan serangan setiap kali Iran kembali memasuki meja perundingan. Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap proses penyelesaian konflik.
Sehingga hal itu dianggap sebagai bentuk pengkhianatan yang jelas dari AS, tambah Rezaei.
Konflik Iran dengan AS dan Israel bermula ketika kedua negara tersebut melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari lalu. Iran kemudian membalas serangan tersebut.
Pada Maret, AS dan Israel kembali menyerang target di ladang gas South Pars serta kawasan industri Assaluyeh di Iran selatan.
Baca Juga
Selanjutnya, pada pertengahan Juni, Iran dan AS menandatangani memorandum untuk menghentikan permusuhan. Namun, kesepakatan itu tidak bertahan lama karena kedua pihak kembali saling melancarkan serangan tidak lama setelah penandatanganan.
Penutupan Selat Hormuz Ganggu Jalur Energi Dunia
Belum terselesaikannya konflik Iran dan AS membuat lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz hampir terhenti akibat eskalasi ketegangan. Kondisi ini menjadi perhatian karena jalur tersebut merupakan salah satu lintasan penting bagi pasokan minyak, produk minyak, dan gas alam cair dunia.
Gangguan pelayaran di Selat Hormuz juga berdampak pada harga bahan bakar di berbagai negara. Situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga energi ketika lalu lintas di jalur strategis itu mengalami hambatan.
Iran tetap mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan pemenuhan tujuh syarat damai yang diajukannya. Sementara itu, respons AS terhadap sejumlah persyaratan tersebut masih menjadi bagian dari persoalan yang belum menemukan penyelesaian.