Megapolitan

Kampung Ambon Bakal Ditata Pramono Anung, Rumah 3x4 Meter Dihuni hingga 16 Orang

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo berencana menata Kampung Ambon, Jakarta Barat, yang dikenal sebagai salah satu kawasan rawan peredaran narkoba.

Kampung Ambon Bakal Ditata Pramono Anung, Rumah 3x4 Meter Dihuni hingga 16 Orang
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo di Jakarta Barat, Kamis, 2 Juni 2026. Foto: Cahyono

fin.co.id – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo berencana menata Kampung Ambon, Jakarta Barat, yang dikenal sebagai salah satu kawasan rawan peredaran narkoba. Penataan tersebut akan dilakukan bersama Polda Metro Jaya untuk mendukung ketertiban sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi warga.

Pramono mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta siap berkolaborasi dengan kepolisian untuk menindaklanjuti penertiban yang sebelumnya dilakukan aparat di kawasan tersebut.

“Untuk Kampung Ambon yang kemarin sempat kemudian dilakukan penertiban oleh Polda Metro Jaya, tentunya Pemerintah DKI Jakarta akan bersinergi, akan bersama-sama dengan Polda Metro Jaya untuk melakukan penertiban dan juga membuat kenyamanan,” kata Pramono di Jakarta Timur, Selasa, 13 Oktober 2026.

Menurut Pramono, program penataan permukiman tidak hanya menyasar Kampung Ambon. Pemprov DKI juga tengah merencanakan pembenahan di sejumlah kawasan lain, termasuk Kebon Melati dan sepanjang Kali Krukut.

Ia menyebut, penataan Kali Krukut dengan panjang sekitar 2,3 kilometer telah disepakati secara prinsip untuk dilaksanakan oleh pemerintah daerah.

“Apakah itu Kebon Melati, Kampung Ambon, dan sebagainya yang sekarang ini sedang kami lakukan penataan, termasuk Kali Krukut yang panjangnya 2,3 kilometer yang sudah kami putuskan secara prinsip akan dirapikan, ditata oleh Pemerintah DKI Jakarta,” ujarnya.

Rumah 3x4 Meter Dihuni hingga 16 Orang

Pramono menjelaskan, salah satu pertimbangan penataan kawasan permukiman adalah kondisi hunian warga yang dinilainya memprihatinkan.

Ia mengaku telah beberapa kali mendatangi kawasan tersebut untuk melihat langsung kondisi tempat tinggal masyarakat. Dari kunjungannya, ia menemukan rumah berukuran sekitar 3 x 4 meter yang dihuni hingga 15–16 orang.

Keterbatasan ruang membuat penghuni rumah tersebut harus berbagi waktu untuk menggunakan tempat tinggal mereka. Menurut Pramono, rumah itu bahkan dimanfaatkan dalam tiga sif setiap harinya.

“Mudah-mudahan penataan ini akan membuat masyarakat yang dulunya kebetulan saya berkali-kali, mungkin 4–5 kali sudah ke sana saya lihat sangat sungguh memprihatinkan, satu rumah 3 kali 4, yang seperti saya sampaikan, ada yang tinggal 15–16 orang satu hari tiga shift,” tutur Pramono.

Melihat kondisi tersebut, Pramono menilai pemerintah perlu mengambil peran dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan kehidupan warga, khususnya di kawasan permukiman padat.

Ia menegaskan, pembenahan lingkungan harus tetap mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang telah lama tinggal di kawasan tersebut. Pemerintah, menurutnya, perlu mencari jalan keluar yang mampu memperbaiki kondisi permukiman tanpa mengabaikan keberadaan warga.

“Nah, yang seperti-seperti itulah yang saya memikirkan agar pemerintah bisa hadir tanpa melakukan penggusuran seperti yang saya sampaikan,” pungkasnya.

Dengan rencana tersebut, Pemprov DKI Jakarta berupaya menggabungkan penataan kawasan, peningkatan kenyamanan lingkungan, dan penanganan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat di permukiman padat.

Berita Terkait